SAMBOJA — Titik api pertama kali terdeteksi pukul 19.30 WITA oleh petugas patroli PT Jasa Marga di STA 31.400, Kelurahan Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja Barat. Laporan itu langsung diteruskan ke Polsek Samboja dan memicu mobilisasi lintas instansi ke lokasi.
Tim gabungan tiba sekitar satu jam kemudian. Medan yang dihadapi tidak mudah: lahan gambut yang dipenuhi semak belukar lebat membuat api cepat merambat di permukaan, sementara bara di bawah tanah berisiko memantik kebakaran susulan.
Pendinginan Intensif Jadi Kunci Padamkan Bara Gambut
Setelah api di permukaan mulai padam, petugas melakukan pendinginan atau cooling down secara menyeluruh. Langkah ini krusial karena karakteristik gambut memungkinkan api tetap membara di dalam tanah dan kembali muncul jika tidak ditangani tuntas.
Operasi pemadaman melibatkan personel Polsek Samboja, Koramil Samboja, Dinas Pemadam Kebakaran Samboja, Manggala Agni Regu Samboja, PT Jasa Marga, Palang Merah Indonesia (PMI), perangkat Kelurahan Sungai Merdeka, serta Kompi Kavaleri Samboja Barat Yonkav 13/Siwah Lembuswana.
Mengapa Kebakaran Ini Diprioritaskan?
Lokasi kebakaran yang berada tepat di sisi jalan tol menjadi alasan utama penanganan berjalan cepat. Kepulan asap yang membubung dikhawatirkan menurunkan jarak pandang pengguna jalan secara drastis, terutama di malam hari.
"Begitu menerima informasi, personel langsung kami turunkan dan berkoordinasi dengan unsur lain untuk bertindak bersama. Setelah api berhasil dikendalikan, kami tetap memantau untuk memastikan kondisi benar-benar aman," ujar Kapolsek Samboja AKP Mohamad Yazid di Samboja, Minggu (23/8/2026).
Api Padam Pukul 22.30 WITA, Polisi Masih Selidiki Penyebab
Api akhirnya dinyatakan padam sepenuhnya pada pukul 22.30 WITA setelah penanganan intensif selama sekitar dua jam. Meski demikian, sejumlah personel tetap disiagakan di lokasi untuk melakukan pemantauan berkala guna mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Polisi masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran. Dugaan sementara mengarah pada kondisi kemarau panjang dan cuaca ekstrem yang membuat vegetasi di kawasan tersebut mengering sehingga mudah terbakar.
Yazid mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan di kawasan rawan karhutla. Ia juga meminta warga tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar.