Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Timur Hetifah Sjaifudian menilai masuknya Erau Adat Kutai 2026 ke dalam Karisma Event Nusantara (KEN) sebagai peluang memperkuat pariwisata sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif di Kutai Kartanegara. Festival budaya tahunan terbesar di Kukar itu masuk daftar 100 besar agenda event pariwisata nasional dan digelar selama delapan hari di Tenggarong. Status KEN dinilai harus dimanfaatkan untuk memperluas promosi kebudayaan Kutai hingga tingkat internasional.
TENGGARONG — Erau Adat Kutai 2026 resmi masuk dalam 100 besar Karisma Event Nusantara (KEN), agenda event pariwisata nasional yang digelar Kementerian Pariwisata. Hetifah Sjaifudian menyampaikan penilaian itu usai menghadiri upacara pembukaan Erau Adat Kutai 2026 di Stadion Rondong Demang, Tenggarong, Minggu.
"Erau merupakan festival budaya berkelanjutan dan tahun ini berhasil masuk dalam 100 besar agenda event pariwisata nasional atau KEN," kata Hetifah.
Anggota Komisi VIII DPR RI itu mengapresiasi konsistensi pelaksanaan Erau sebagai festival budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Menurutnya, status KEN harus dimanfaatkan untuk memperluas promosi kebudayaan Kutai Kartanegara ke tingkat internasional dan meningkatkan nilai ekonomi daerah.
Kebudayaan Dinilai Investasi, Bukan Beban Anggaran
Hetifah menekankan agar pemerintah pusat terus memperkuat dukungan terhadap kegiatan kebudayaan daerah. Kebudayaan tidak boleh dipandang sebagai beban pengeluaran daerah, melainkan investasi yang berdampak langsung pada perekonomian masyarakat.
"Jika dikelola dengan baik dan terintegrasi dengan sektor ekonomi kreatif, kegiatan kebudayaan bisa memberikan dampak multiplier effect yang besar bagi kesejahteraan warga setempat," ujar Hetifah.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyampaikan apresiasi tinggi kepada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, pemerintah kabupaten, serta pemangku adat yang konsisten menjaga warisan leluhur.
"Atas nama Pemerintah Provinsi Kaltim, kami berterima kasih kepada semua pihak yang menjaga kelestarian ini. Erau bukan sekadar ritual seremonial, melainkan denyut nadi kebudayaan Kutai yang terus hidup," kata Plt. Asisten Administrasi Sekretariat Daerah Provinsi Kaltim, Muhaimin.
Delapan Hari, dari Ritual Keraton hingga Pesta Rakyat
Festival budaya tahunan terbesar di Kutai Kartanegara ini berlangsung selama delapan hari, mulai Minggu (20/9) hingga Minggu (27/9). Puncak prosesi ritual diselesaikan pada Senin (28/9).
Tahun ini, Erau mengusung tema "Raja Manunggal Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya". Rangkaian acara memadukan ritual adat sakral di dalam Keraton Kesultanan (Museum Mulawarman) dengan pesta rakyat di ruang publik.
Selain ritual harian seperti Beluluh dan Bepelas, festival ini dimeriahkan panggung hiburan, pentas seni internasional, perlombaan olahraga tradisional, serta pameran UMKM untuk menggerakkan ekonomi lokal.
Beseprah hingga Belimbur Jadi Magnet Warga
Beberapa momen ikonik yang dinanti masyarakat di antaranya tradisi makan bersama tanpa sekat (Beseprah) pada Kamis (24/9). Prosesi puncak Mengulur Naga dan tradisi saling menyiram air (Belimbur) digelar pada Minggu (27/9) sebagai simbol pembersihan diri dari pengaruh buruk.
Rangkaian tradisi itu menjadi penanda berakhirnya prosesi adat sekaligus ajang berkumpulnya warga Kutai Kartanegara dari berbagai kampung. Pameran UMKM yang digelar sepanjang festival menjadi kanal bagi pelaku usaha lokal menjangkau pengunjung dari luar daerah.