Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menggelar Erau Adat Pelas Benua selama empat hari, 9-12 Oktober, untuk menarik wisatawan nasional ke Sangatta. Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyebut pelestarian budaya dipadukan dengan pengembangan ekonomi kreatif warga. Rangkaian acara mencakup ziarah makam Datuk Sampai bin Lohom hingga lomba olahraga tradisional di Rumah Lamin Adat.
SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menjadikan Erau Adat Pelas Benua sebagai pintu masuk memperkenalkan destinasi wisata daerah ke pasar nasional. Agenda budaya yang berlangsung empat hari, 9-12 Oktober, ini dirangkai dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-27 Kabupaten Kutim bertema "Adat Lestari, Tuah Benua Etam Berjaya".
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menilai pelestarian adat bukan sekadar seremonial tahunan. Menurutnya, warisan budaya yang dikelola serius bisa menarik kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan usaha warga.
"Terlebih pelestarian budaya ini juga dipadukan dengan pengembangan potensi ekonomi kreatif masyarakat, sehingga pengunjung tidak hanya bisa menikmati warisan budaya leluhur, tapi juga aneka produk khas lokal," ujar Ardiansyah saat membuka acara di Sangatta.
Ziarah Makam Datuk Sampai Hingga Lomba Menyumpit
Rangkaian kegiatan dibuka dengan ziarah ke makam Datuk Sampai bin Lohom di kawasan Jalan Guru Besar. Tokoh itu tercatat menjabat kepala adat pada 1855-1901 dan dianggap bagian penting perjalanan sejarah masyarakat Sangatta.
Setelah doa bersama, warga mengikuti perlombaan olahraga tradisional di Rumah Lamin Adat. Cabang yang dipertandingkan meliputi menyumpit, begasing atau gasing, belogo, dan ketapel.
Permainan rakyat itu dinilai berpotensi dikembangkan menjadi atraksi wisata. Pengunjung bisa merasakan langsung pengalaman mengenal sejarah, tradisi, dan permainan masyarakat Kutai, bukan sekadar menonton pertunjukan panggung.
Olahraga Tradisional Diminta Tak Hanya Muncul Saat Perayaan Adat
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kutim Basuki Isnawan menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat, komunitas, dan generasi muda. Tanpa itu, olahraga tradisional berisiko hanya tampil saat perayaan adat dan kehilangan regenerasi pemain.
Dari sisi pariwisata, agenda budaya seperti Erau dinilai bisa menjadi pintu masuk memperkenalkan destinasi lain di Kutim. Daerah ini memiliki beragam potensi mulai kawasan pesisir hingga bentang alam karst Sangkulirang-Mangkalihat.
"Pengembangan wisata budaya juga berpeluang membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produk kuliner, kerajinan, serta cenderamata khas daerah," kata Basuki.
Modal Pembangunan dan Arah Kapasitas Diri Warga
Ardiansyah menempatkan adat dan budaya sebagai salah satu modal utama pembangunan daerah. Menurutnya, warga yang tidak mengenal adat dan budayanya akan sulit melihat arah yang harus ditempuh untuk meningkatkan kapasitas diri.
Erau Adat Pelas Benua tahun ini menjadi ajang pertama yang digelar berbarengan dengan peringatan ulang tahun kabupaten. Pemerintah Kutim berharap format acara ini bisa berlanjut dan menarik lebih banyak kunjungan dari luar Kalimantan Timur.