SANGATTA — Kabupaten Kutai Timur selama ini identik dengan tambang batu bara dan perkebunan kelapa sawit. Namun, di celah-celah dominasi dua sektor itu, komoditas kakao mulai menunjukkan geliat sebagai primadona baru. Pengiriman perdana kakao asal Kutim ke luar daerah resmi dijadwalkan pada Juni 2026.
Kakao menjadi salah satu komoditas yang diandalkan untuk merehabilitasi lahan pascatambang di Kutim. Tanaman ini dinilai adaptif terhadap kondisi tanah yang sudah kritis dan tidak membutuhkan air sebanyak kelapa sawit. Petani di sejumlah kecamatan mulai beralih menanam kakao setelah melihat potensi pasar yang lebih stabil dibandingkan komoditas perkebunan lain.
Pemerintah Kabupaten Kutim melalui dinas terkait telah mematangkan rantai pasok dan logistik. Pengiriman perdana dijadwalkan pada Juni 2026 dengan tujuan sejumlah kota di Pulau Jawa dan Sulawesi. Volume pengiriman tahap awal masih dalam tahap finalisasi, namun pihak pemkab memastikan kualitas biji kakao Kutim sudah memenuhi standar pasar nasional.
Kakao Kutim dikembangkan dengan pendekatan agroforestri, yaitu ditanam bersama pohon pelindung seperti lamtoro dan jati. Metode ini menghasilkan biji kakao dengan cita rasa khas dan kadar fermentasi yang lebih baik. Beberapa pembeli dari luar daerah sudah melakukan uji coba dan menyatakan minat untuk menjalin kontrak jangka panjang.
Dengan adanya kepastian pasar luar daerah, harga jual kakao di tingkat petani diprediksi naik. Selama ini, sebagian besar hasil panen hanya diserap pasar lokal dengan harga fluktuatif. Pembukaan akses ke luar Kaltim diharapkan mendorong lebih banyak petani di Kutim beralih ke kakao, sekaligus mengurangi tekanan terhadap lahan sawit dan tambang.
Pemkab Kutim telah menyiapkan program pendampingan teknis dan bantuan bibit unggul. Petani diimbau untuk memperbaiki proses pascapanen, terutama fermentasi dan pengeringan, agar kualitas biji konsisten. Pemerintah juga menjajaki kerja sama dengan koperasi untuk memangkas rantai distribusi sehingga margin keuntungan petani lebih besar.
Kakao Kutim dinilai memiliki prospek cerah seiring meningkatnya permintaan industri cokelat nasional. Dengan pengiriman perdana yang tinggal menghitung bulan, Kutim berpeluang menjadi salah satu sentra kakao baru di Kalimantan Timur. Jika konsisten, sektor ini bisa menjadi penopang ekonomi alternatif saat cadangan batu bara mulai menipis.