SAMARINDA — Persoalan rumah tidak layak huni di Kalimantan Timur masih menjadi pekerjaan rumah yang menghambat upaya penurunan angka stunting. Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim Sunarto menyebut kondisi ini banyak ditemukan pada masyarakat yang bermukim di bantaran sungai.
“Data-data itu harus kita sinkronkan. Di kami, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga memiliki data keluarga berisiko yang indikatornya bisa menunjukkan kondisi rumah tidak layak huni,” ujar Sunarto usai menghadiri Kick Off Pelayanan KB dalam rangka Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026 di Gedung PKK Kota Samarinda, Senin (8/6).
BKKBN Kaltim telah menyerahkan data keluarga berisiko kepada Dinas PUPR Provinsi Kaltim. Data itu akan divalidasi dan diverifikasi agar penerima bantuan rumah benar-benar warga yang paling membutuhkan.
“Data itu yang kemudian menjadi penting dan sudah kami serahkan ke Dinas PUPR Kaltim untuk divalidasi dan diverifikasi. Mudah-mudahan sasarannya menjadi tepat,” harap Sunarto.
Program pembangunan tiga juta rumah dari pemerintah pusat dan bantuan 500 unit rumah dari Pemprov Kaltim disebut harus didukung basis data yang akurat. Tanpa sinkronisasi, bantuan berisiko tidak menjangkau keluarga yang tinggal di hunian paling tidak layak.
Sunarto menilai penanganan RTLH tidak bisa dipisahkan dari upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, kondisi rumah yang tidak layak menjadi salah satu faktor penghambat penurunan angka stunting di daerah.
“Karena ini juga kaitannya dengan peningkatan ekonomi. Ketika itu kita biarkan, maka sulit bagi kita untuk menekan angka stunting,” tegasnya.
Lingkungan hunian yang kumuh dan tidak sehat kerap memicu masalah gizi kronis pada balita. Pemerintah daerah pun didorong untuk menjadikan perbaikan rumah sebagai bagian dari intervensi spesifik penanganan stunting.
Dalam kesempatan yang sama, Sunarto juga mengajak remaja di Kalimantan Timur untuk mengunduh aplikasi Sakinah. Aplikasi itu menyediakan informasi seputar pembangunan kependudukan dan keluarga, termasuk layanan KB.
“Saran saya remaja putra dan remaja putri silakan download aplikasi Sakinah. Di dalam aplikasi itu remaja putri bisa mendapatkan informasi yang berkaitan dengan pembangunan kependudukan dan pembangunan keluarga, termasuk layanan KB,” pungkasnya.
Langkah sinkronisasi data RTLH ini diharapkan dapat mempercepat realisasi program perumahan sekaligus menekan angka stunting di Kalimantan Timur secara lebih terukur dan tepat sasaran.