SAMARINDA — Kota Samarinda menjadi satu dari tiga lokasi utama peluncuran pelayanan KB serentak nasional yang akan digelar pada 2026. Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, menyebut kepercayaan ini menjadi momentum untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) dan menekan angka stunting di ibu kota provinsi Kalimantan Timur tersebut.
"Dari seluruh Indonesia, hanya tiga provinsi yang ditunjuk untuk pelaksanaan dan pelaporan langsung, yakni Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur yang diwakili Kota Samarinda," ujar Saefuddin di Samarinda, Senin.
Pelayanan KB serentak ini dijadwalkan berlangsung mulai 8 Juni hingga 8 Juli 2026. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda, Deasy Evriyani, menyatakan pihaknya telah menyiapkan 969 Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang tersebar di 59 kelurahan untuk memaksimalkan capaian program.
Selain mengandalkan TPK, DPPKB Samarinda meluncurkan sejumlah program taktis. Di antaranya Inovasi DICINTAI (Dapur Ibu Cerdas Indonesia Tanpa Stunting), program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang telah menjangkau 295 dari target 464 keluarga, serta program SIDAYA (Lansia Berdaya), TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak), dan GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia).
Saefuddin menegaskan bahwa program KB bukan sekadar agenda kesehatan biasa. Menurutnya, Samarinda sebagai ibu kota provinsi dan kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) harus menyiapkan pembangunan manusia secara serius untuk menghadapi era bonus demografi.
"Samarinda ini ibu kota provinsi dan kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Pembangunan manusianya harus kita siapkan bersama untuk menghadapi era bonus demografi," tegasnya.
Kepala Perwakilan BKKBN Kalimantan Timur, Sunarto, mengingatkan bahwa penanganan stunting tidak boleh hanya fokus pada aspek makanan dan nutrisi. Ia menekankan pentingnya intervensi menyeluruh pada faktor non-nutrisi yang sering menjadi akar masalah.
Beberapa faktor non-nutrisi yang dimaksud antara lain kondisi rumah yang tidak layak huni, keterbatasan akses air bersih, serta sanitasi atau jamban warga yang tidak sehat. Melalui kolaborasi lintas sektor, Pemkot Samarinda optimistis dapat memperluas akses layanan KB sekaligus menciptakan generasi unggul yang siap menyokong pertumbuhan IKN.