BERAU — Perubahan haluan ekonomi di Bumi Batiwakkal mulai menunjukkan hasil. Di Kecamatan Biduk-Biduk, jumlah wisatawan melesat dari 23.440 orang pada 2024 menjadi 58.620 orang di 2025. Angka itu disebut Bupati Sri Juniarsih Mas sebagai bukti bahwa pengelolaan potensi desa secara terarah mampu mendongkrak kesejahteraan.
Pekan ini, bupati melantik empat kepala kampung baru: Kampung Tasuk, Suaran, Sei Bebanir Bangun, dan Kampung Biduk-Biduk. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya memanfaatkan sumber daya lokal untuk menggerakkan ekonomi kreatif.
"Seluruh kampung memiliki potensi berbeda yang dapat dikembangkan baik pertanian, pariwisata, maupun penggerak ekonomi lain yang bersifat terbarukan," kata Sri Juniarsih Mas di Berau, Jumat.
Salah satu destinasi yang menjadi motor penggerak adalah Danau Labuan Cermin. Pembenahan objek wisata dan peningkatan aksesibilitas di wilayah pesisir disebut sebagai faktor utama lonjakan kunjungan. Produk turunan kelapa dalam di Kampung Biduk-Biduk juga mulai dikembangkan sebagai suvenir dan bahan baku industri rumahan.
Bupati mengingatkan agar potensi tiap kampung dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Ia juga meminta para kepala kampung menjaga amanah dengan integritas tinggi.
"Penguatan sumber daya manusia serta pengembangan ekonomi kreatif dan potensi lokal, termasuk sektor pariwisata, pertanian, dan kelautan yang tersebar di tiap kampung, semua memiliki peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Berau selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batu bara di Kalimantan Timur. Namun, cadangan yang kian menipis memaksa pemerintah daerah mencari sumber pertumbuhan baru. Sektor pariwisata dan pertanian dalam arti luas dinilai paling prospektif karena bisa dikembangkan tanpa merusak lingkungan.
Kampung-kampung di pesisir seperti Biduk-Biduk kini menjadi laboratorium transisi itu. Jika konsisten, dalam beberapa tahun ke depan Berau bisa menjadi contoh daerah lain di Indonesia yang berhasil lepas dari ketergantungan tambang.