SAMARINDA — Perpaduan darah Mandar dari ayah dan Kutai dari ibu membentuk karakter Syafruddin Pernyata, atau akrab disapa Espe. Kedekatannya dengan budaya Mandar bahkan terlihat dalam berbagai kajiannya tentang sistem kekerabatan dan gelar kehormatan masyarakat Mandar.
Syafruddin tak hanya bergelut di dunia pers. Ia pernah menjadi guru, dosen, hingga menduduki jabatan eselon II di sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Kaltim. Dunia tulis-menulis telah menjadi napasnya sejak muda.
Kegemarannya menulis cerita pendek melahirkan belasan buku. Beberapa di antaranya Harga Diri (2005), Zulaiha (2016), Aku Bulan Kamu Senja (2018), Ratih Tanpa Smartphone (2019), hingga Summa Cum Laude (2020). Karya-karyanya banyak mengangkat kearifan lokal Nusantara.
Wartawan Legend Bedapatan ke-4 Tahun 2026 menjadi momen mengenang jasa 127 wartawan yang pernah berkiprah di Kalimantan Timur. Ketua Panitia Charles Siahaan menyampaikan apresiasi kepada seluruh organisasi dan asosiasi pers yang mendukung acara ini.
Mewakili Gubernur Kaltim, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kaltim Muhammad Faisal menegaskan pers berperan strategis sebagai penjaga akal sehat publik dan perekat harmoni sosial. Melalui forum ini, wartawan lintas generasi diajak berbagi pengalaman dan menjaga profesionalisme jurnalisme di era digital.
Di luar dunia jurnalistik, Syafruddin tercatat sebagai anggota Mufakat Budayawan Indonesia yang dipimpin budayawan nasional Rhadar Panca Dahana. Kehadirannya di forum Bedapatan menjadi pengingat bahwa profesi wartawan tak hanya melahirkan insan pers kritis, tetapi juga tokoh yang berkontribusi di bidang sastra, pendidikan, dan pemerintahan.