BALIKPAPAN — Rata-rata titik panas di Kalimantan Timur kini berada di atas 50 titik per hari selama musim kemarau. Data BMKG Balikpapan pada Minggu (12/7/2026) menunjukkan 78 titik panas terdeteksi dari pukul 01.00 hingga 24.00 WITA.
Sebaran titik panas ini tidak merata. Kutai Timur mendominasi dengan 27 titik, disusul Paser 17 titik, Kutai Kartanegara 15 titik, dan Berau 14 titik. Kutai Barat mencatat lima titik panas. Data ini diolah dari hasil pemantauan satelit Terra, Aqua, S-NPP, dan NOAA20.
Dari total 78 titik panas, 76 titik berada pada kategori kepercayaan sedang (medium). Dua titik lainnya masuk kategori kepercayaan tinggi (high). Tidak ada titik yang masuk kategori kepercayaan rendah (low).
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, mengatakan titik-titik dengan warna merah pada peta sebaran menunjukkan tingkat kepercayaan deteksi yang sangat tinggi. "Namun, kita lihat juga di sini kan ada warna merah. Berarti memang pada warna merah ini tingkat kepercayaan dari titik panasnya terjadi sangat tinggi," ujar Huda, Rabu (15/7/2026).
Huda menjelaskan peningkatan titik panas dipicu oleh menurunnya curah hujan akibat musim kemarau. Fenomena El Nino memperparah kondisi tersebut. "Sebenarnya, untuk fenomena El Nino di bulan Juli dan Agustus ini memang tidak terlalu signifikan pengaruhnya, namun memang masih berdampak terhadap penurunan curah hujan," katanya.
Dampak El Nino diprediksi makin terasa pada September, Oktober, dan November. Puncak musim kemarau sendiri diperkirakan masih terjadi pada Agustus. Jika intensitas El Nino meningkat, durasi kemarau berpotensi semakin panjang.
Tren jumlah titik panas harian masih fluktuatif. Huda mencontohkan, sehari sebelumnya jumlah titik panas justru lebih tinggi dari data terbaru. "Contohnya untuk hari kemarin justru terdapat titik hotspot yang lebih tinggi daripada hari ini. Jadi memang masih berfluktuasi untuk titik hotspotnya," tutup Huda.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat di Kalimantan Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah dengan konsentrasi titik panas tinggi seperti Kutai Timur dan Paser.