Target Swasembada Energi, PLN Bangun 24 Pabrik Hidrogen Hijau dan Produksi 203 Ton Per Tahun

Penulis: Okta Nugraha  •  Jumat, 24 Juli 2026 | 17:10:31 WIB
PLN resmi mengoperasikan 24 pabrik hidrogen hijau dengan total kapasitas produksi mencapai 203 ton per tahun.

KALIMANTAN TIMUR — Rencana pengembangan hidrogen nasional ini mengemuka dalam ajang Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta, Selasa (21/7/2026). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menekankan bahwa hidrogen menjadi energi alternatif krusial di tengah ketidakpastian geopolitik global.

“Hidrogen ini dihasilkan dari air, gas, batu bara, biomassa. Bahan baku yang ada pada bangsa kita itu tidak perlu diragukan lagi,” ujar Bahlil dalam sambutannya.

Menurut Bahlil, percepatan pengembangan hidrogen membutuhkan empat pilar utama: kesiapan teknologi, terbentuknya pasar, ketersediaan investasi, serta regulasi yang mendukung. Ia menyebut Kementerian ESDM terbuka untuk berdiskusi mengenai regulasi apa yang diperlukan agar implementasi berjalan lebih efisien.

Investasi Rp32 Triliun dan 93 Proyek Tersebar

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengungkapkan, saat ini terdapat 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang tersebar di seluruh Indonesia. Proyek-proyek ini telah melahirkan investasi sebesar Rp32 triliun.

“Pengembangan hidrogen didorong untuk mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan ketenagalistrikan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil,” jelas Eniya.

PLN Pionir Ekosistem End-to-End

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan pihaknya siap memimpin pengembangan ekosistem hidrogen secara terintegrasi. “PLN siap all out mengekspansi apa yang sudah kami awali di setiap lini, sehingga ekosistem hidrogen nasional dapat terakselerasi. Ini adalah komitmen PLN sebagai pionir ekosistem hidrogen end-to-end di Indonesia,” tegasnya.

Sejak 2023, PLN telah mengoperasikan GHP pertama di PLTGU Muara Karang, Jakarta. Dari total 24 GHP yang kini beroperasi, sebanyak 75 ton hidrogen per tahun digunakan untuk pendingin generator pembangkit, sementara 128 ton sisanya siap disalurkan ke sektor lain.

PLN juga membangun infrastruktur pendukung seperti Hydrogen Refueling Station (HRS) sebagai stasiun pengisian hidrogen dan Hydrogen Center sebagai pusat kompetensi hidrogen pertama di Indonesia. Kolaborasi dengan Pupuk Kujang untuk produksi green ammonia sudah berjalan, dan hasilnya dimanfaatkan dalam co-firing di PLTU Labuan, Banten.

Studi Bersama untuk Transportasi dan Industri

Untuk mempercepat adopsi hidrogen, PLN menjalankan sejumlah joint study. Salah satunya adalah pengembangan Jakarta Hydrogen Mobility bersama Kementerian ESDM, TransJakarta, dan DAMRI. Ada pula studi bersama untuk produksi green hydrogen di Jambi dan Gresik yang melibatkan Pupuk Indonesia.

Darmawan menambahkan, pengembangan hidrogen tidak hanya soal energi bersih, tetapi juga peluang ekonomi. “Hidrogen bukan sekadar energi. Lewat langkah kolaboratif, pengembangannya bisa mendorong penciptaan lapangan kerja ramah lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Reporter: Okta Nugraha
Sumber: malukuterkini.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top