SANGATTA — Angka tersebut baru mencakup 34 persen dari total populasi berisiko yang berhasil dijangkau melalui layanan skrining. Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menegaskan, sosialisasi tidak bisa lagi dilakukan secara umum, melainkan harus menyasar penyebab utama penyebaran virus.
Mahyunadi menyebut pihaknya akan menggandeng berbagai elemen masyarakat, termasuk perusahaan yang beroperasi di Kutim. Edukasi juga diperkuat di kalangan pelajar dan keluarga sebagai upaya pencegahan sejak dini.
"Kami terus berupaya meminimalisir penyebaran HIV/AIDS, di antaranya gencar melakukan sosialisasi menyeluruh ke banyak kalangan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk ke perusahaan," ujar Mahyunadi di Sangatta, Minggu.
Wabup meminta Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) setempat untuk tidak berhenti pada pendataan dan penyuluhan. Ia mendorong pendampingan lebih intensif terhadap kelompok berisiko melalui pendekatan sosial, keagamaan, dan pembinaan agar mereka bisa menjalani hidup lebih sehat.
Mahyunadi juga menyoroti pentingnya menghilangkan stigma di masyarakat. Menurutnya, stigma justru membuat penderita takut membuka diri atau menjalani pengobatan, padahal mereka memiliki tanggung jawab untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati memaparkan capaian indikator global WHO untuk Kutim hingga Mei 2026. Dari total ODHIV yang teridentifikasi, sebanyak 72 persen menjalani terapi Antiretroviral (ARV), 61 persen melakukan pemeriksaan viral load, dan hanya 58 persen pasien yang viral load-nya berhasil tersupresi.
"Semakin banyak yang teridentifikasi, semakin besar peluang mereka mendapat pengobatan sehingga risiko penularan dapat ditekan," ujar Yuwana.
Untuk mendukung penanganan, layanan HIV/AIDS kini sudah tersedia di 31 fasilitas kesehatan di Kutim. Rinciannya meliputi 21 puskesmas, tiga rumah sakit pemerintah, tujuh rumah sakit swasta, dan satu klinik.
Sebelumnya, dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan HIV/AIDS pada Jumat (24/7/2026), Mahyunadi menekankan perlunya langkah konkret dan efektif agar kasus HIV/AIDS di Kutim tidak semakin meningkat.