Limbah Organik Kafetaria Pertamina Hulu Mahakam di Muara Pantuan Kini Jadi Pakan Bebek, Produksi Telur Tembus 100 Butir Per Hari

Penulis: Taufik Rahman  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 15:02:01 WIB
Sampah organik dari kafetaria pekerja Lapangan SPU PT Pertamina Hulu Mahakam diolah menjadi pakan ternak bebek di Desa Muara Pantuan.

KUTAI KARTANEGARA — Sejak April 2026, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) memasok seluruh sampah organik dari kafetaria pekerja Lapangan South Processing Unit (SPU) untuk pakan ternak warga Desa Muara Pantuan. Langkah ini mengubah limbah yang tadinya rutin diangkut ke fasilitas pengelolaan sejauh 30 kilometer menjadi sumber daya produktif.

Program ini berawal dari kajian Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) PHM soal pengelolaan sisa makanan kafetaria. Hampir bersamaan, sekitar Juni 2025, warga Muara Pantuan mengajukan permohonan bantuan pakan bebek. Perusahaan kemudian menggabungkan dua kebutuhan itu: mengurangi timbunan sampah sekaligus mendorong usaha warga.

Produksi Telur Capai Ratusan Butir Per Hari

Pembibitan dimulai September 2025 dengan 300 ekor bebek. Setelah memasuki usia lima bulan, peternak menambah 300 ekor lagi. Lonjakan populasi ternak itu mendorong PHM memasok penuh sampah organik kafetaria sebagai pakan sejak April 2026.

Hasilnya mulai terlihat. Sejak Februari 2026, peternakan menghasilkan 60 hingga 90 butir telur bebek per hari. Pada waktu tertentu, produksinya menembus lebih dari 100 butir. Para peternak kini fokus mengembangkan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan desa.

Efisiensi Operasional dan Penurunan Risiko Keselamatan

Kepala Lapangan SPU PHM, Teddy Indrawan, mengatakan program ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional. “Program ini memberikan manfaat lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (29/7/2026).

Sebelumnya, PHM harus mengangkut sampah organik kafetaria pekerja SPU ke fasilitas pengelolaan limbah yang berjarak sekitar 30 kilometer. Setelah program berjalan, rutinitas itu berkurang drastis. Teddy menambahkan, pengelolaan limbah yang lebih efisien turut menurunkan risiko keselamatan dalam operasional harian.

ESG dan Creating Shared Value di Hulu Migas

General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menilai inisiatif ini sebagai penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Ia berharap kolaborasi semacam ini bisa menginspirasi lahirnya lebih banyak program yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

“Sejalan dengan semangat ESG, kami akan terus mendorong program-program yang menciptakan nilai bersama atau creating shared value bagi seluruh pemangku kepentingan,” tegasnya saat melakukan Management Walk Through (MWT) ke lokasi peternakan bebek di Desa Muara Pantuan belum lama ini.

Head of Communication Relations & CID PHM, Achmad Krisna Hadiyanto, menambahkan bahwa program yang tadinya berfokus pada pengurangan limbah kini berkembang menjadi penggerak ekonomi masyarakat. “Ke depan, kami akan terus mendorong program kolaboratif yang dapat dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Program ini menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan di wilayah operasional hulu migas dapat berjalan selaras dengan pemberdayaan masyarakat. Dari limbah kafetaria, lahir usaha peternakan yang menghasilkan telur puluhan hingga ratusan butir setiap hari.

Reporter: Taufik Rahman
Sumber: narasinegeri.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top