KALIMANTAN TIMUR — Janji transparansi pengelolaan aset negara kembali diuji. Danantara Indonesia, badan pengelola investasi yang menaungi perusahaan-perusahaan pelat merah, belum juga merilis laporan keuangan resmi. Padahal, entitas ini mengemban amanah mengelola aset jumbo yang nilainya menembus belasan ribu triliun rupiah.
Publik dan pelaku pasar tentu menunggu. Sebab, di bawah payung Danantara, terdapat nama-nama besar seperti Pertamina, PLN, BRI, hingga Telkom. Kinerja keuangan mereka adalah cerminan kesehatan ekonomi nasional.
Ekonom menilai laporan keuangan adalah instrumen akuntabilitas utama. Tanpa dokumen ini, publik tidak bisa mengukur efisiensi pengelolaan dividen, realisasi belanja modal, atau bahkan potensi utang yang membayangi perusahaan pelat merah.
Keterbukaan informasi juga menjadi sinyal penting bagi investor global. Mereka membutuhkan data konkret untuk menilai risiko sebelum menanamkan modal di pasar Indonesia. Ketiadaan laporan keuangan Danantara bisa diartikan sebagai kurangnya kesiapan tata kelola.
Padahal, Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan di hadapan anggota DPR RI belum lama ini sempat memamerkan kinerja BUMN. Namun, tanpa dukungan data keuangan yang terverifikasi, klaim kinerja tersebut kehilangan pijakan yang kuat.
Para pengamat ekonomi-bisnis menekankan bahwa transparansi bukan sekadar formalitas administratif. Ini adalah fondasi kepercayaan publik terhadap pengelolaan uang negara. Mereka mendesak direksi Danantara untuk segera menerbitkan laporan keuangan periode pertama sebagai wujud komitmen.
Keterlambatan ini juga berpotensi memicu pertanyaan tentang arus kas internal. Apakah dana yang dihimpun dari dividen BUMN sudah dialokasikan secara optimal ke sektor-sektor prioritas seperti hilirisasi dan energi terbarukan? Publik berhak tahu.
Kabar baiknya, regulator dan pemerintah masih memiliki ruang untuk mengklarifikasi. Langkah selanjutnya yang dinanti adalah publikasi laporan keuangan yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) independen. Hal ini akan menjadi ujian pertama kredibilitas Danantara di mata dunia usaha.
Jika laporan tersebut nantinya menunjukkan pertumbuhan laba yang sehat, kepercayaan pasar akan menguat. Sebaliknya, jika ditemukan kejanggalan, risiko kapital keluar dari pasar modal Indonesia bisa meningkat. Semua mata kini tertuju pada keputusan manajemen Danantara untuk membuka data tersebut.