KALIMANTAN TIMUR — Tim peneliti dari Australian Research Centre for Human Evolution di Griffith University memeriksa dua kerangka manusia purba yang ditemukan di dua lokasi berbeda di Sulawesi. Satu kerangka diperkirakan berusia sekitar 7.000 tahun, satunya lagi 16.000 hingga 25.000 tahun. Keduanya berasal dari masa berburu dan meramu, jauh sebelum pertanian dikenal.
Para peneliti menemukan lubang aneh seperti kikisan dalam di gigi kedua kerangka. Beberapa lubang bahkan menembus pulpa, bagian jaringan saraf gigi.
"Saya berpikir, apa yang sebenarnya dilakukan orang-orang ini? Sepertinya seseorang menggunakan bor berbentuk permen gobstopper dan mengikis bagian dalam gigi," kata Adam Brumm, profesor dari Griffith University.
Brumm menduga keausan itu muncul dari kebiasaan mengemut benda keras, bulat, dan abrasif di mulut. "Bayangkan Anda menyimpan batu di mulut Anda dan Anda memindahkannya dari satu bagian mulut Anda ke bagian lain hari demi hari dan jam demi jam," ujarnya.
Hasil analisis mengarah pada biji pohon pinang (Areca catechu) yang diemut utuh. Manusia purba Sulawesi belum tahu bahwa mencampur biji pinang dengan kapur sirih melepaskan lebih banyak zat psikoaktif dan memperkuat efek mabuk.
Untuk menguji dugaan itu, ilmuwan merendam biji pinang dalam air liur buatan. Biji tersebut terbukti mengandung senyawa arecoline dalam kadar cukup untuk menimbulkan efek mabuk, meski lebih ringan dibanding dikunyah. Jejak arecoline inilah yang ditemukan pada kedua kerangka.
"Saya mencoba mengemut biji buah pinang sebagai eksperimen dan rasanya sangat pahit dan sepat. Itu membuat mulut mati rasa dan saya pikir itulah yang membuat mereka tertarik," kata Brumm.
Brumm menduga tradisi ini awalnya jadi pengobatan tradisional untuk sakit gigi. Karena dilakukan terus-menerus, gigi justru terkikis dan menimbulkan rasa sakit yang lebih parah. Manusia purba Sulawesi pun terjebak siklus berulang: mengemut pinang untuk mengobati sakit gigi yang disebabkan kebiasaan itu sendiri.
Biji pinang adalah sumber zat psikoaktif paling banyak digunakan keempat di dunia setelah alkohol, kafein, dan nikotin. Jumlah penggunanya mencapai sepersepuluh populasi global, menurut laporan The Guardian.
"Kami telah menemukan bukti tentang bagaimana kebiasaan penggunaan obat-obatan yang sangat umum ini, yang ditemukan di sebagian besar wilayah Asia-Pasifik saat ini, mungkin telah berevolusi," kata Brumm.
Elisa Guerra-Doce, profesor prasejarah Eropa di Universitas Valladolid, Spanyol, menilai temuan ini memberi bukti langsung soal kapan manusia mulai menggunakan obat-obatan.
"Temuan ini tidak hanya mewakili bukti paling awal yang diketahui hingga saat ini tentang penggunaan tanaman psikoaktif di mana pun di dunia, tetapi juga menunjukkan bahwa konsumsi biji pinang Areca adalah tradisi berusia ribuan tahun yang berasal dari zaman prasejarah," tuturnya.
Studi yang diterbitkan di Science Advances ini memperkuat posisi Sulawesi sebagai salah satu situs arkeologi paling penting di dunia. Tradisi mengunyah pinang yang masih berlangsung di banyak wilayah Indonesia dan Asia-Pasifik hari ini punya akar yang jauh lebih dalam dari yang diperkirakan sebelumnya.