KALIMANTAN TIMUR — Tsuto mengungkapkan bahwa TPA di wilayahnya memiliki area khusus untuk daur ulang elektronik. Area inilah yang ia "serbu" sekali seminggu untuk mengumpulkan komponen bagi proyek lab-nya.
Barang yang Berhasil Diselamatkan
Dari pengakuannya, hasil buruan mingguan itu mencakup berbagai perangkat yang masih bernilai. Mulai dari SSD, HDD, kartu grafis (GPU), modul RAM, hingga laptop utuh.
- SSD dan HDD berbagai kapasitas
- GPU, termasuk seri yang masih diburu pasar
- Modul RAM DDR4
- Laptop lengkap, salah satunya Asus ROG
"Sungguh gila apa yang orang buang sekarang," ujar Tsuto, dikutip dari unggahannya di komunitas r/homelab.
Laptop ROG Hanya Butuh Baterai Baru
Salah satu temuan yang paling memuaskan adalah laptop gaming Asus ROG. Menurut Tsuto, perangkat itu hanya perlu baterai pengganti seharga 25 dolar AS (sekitar Rp 412 ribu) yang dibeli dari Amazon.
Spesifikasinya pun masih memadai untuk kebutuhan gaming kasual. Laptop tersebut ditenagai Intel Core i7-4710HQ (4 core/8 thread), dipadukan RAM 16 GB dan GPU GeForce GTX 860M 2 GB.
Perangkat ini disebut cukup untuk menjalankan game ringan seperti Stumble Guys, yang memang jadi kebutuhan gaming sang anak.
Spesifikasi Server Proxmox Hasil Rakit
Proyek home lab utama Tsuto adalah server Proxmox yang dirakit dari komponen hasil pungutan. Meski tampilannya berdebu, mesin ini dinilai memadai untuk kebutuhannya.
Konfigurasi penyimpanannya cukup agresif untuk ukuran server bekas. Ada dua SSD 256 GB yang di-mirror untuk sistem operasi, satu SSD 1 TB tambahan sebagai penyimpanan cepat, dan tiga HDD 2 TB dalam RAID1 untuk ZFS storage.
Menariknya, tidak semua komponen berasal dari TPA. Tsuto mengaku tetap membeli beberapa part inti secara baru, yakni prosesor Core i7-7700 dan RAM 64 GB.
Mengapa Komponen Bekas Makin Berharga
Tsuto mengakui banyak komponen yang ia temukan tergolong generasi lama. Namun, kondisi pasar 2026 membuat part lawas seperti RTX 3060, motherboard dan CPU AM4, serta DDR4 tetap diburu.
Kelangkaan komponen global membuat harga part ritel melonjak, sehingga barang bekas yang masih berfungsi punya nilai jual tinggi. Inilah yang membuat praktik dumpster diving kian relevan bagi kalangan penghobi.
Di sisi lain, tidak semua wilayah memberi akses mudah seperti yang dialami Tsuto. Beberapa pusat daur ulang lokal justru dijaga ketat dengan kamera dan petugas keamanan, sehingga komponen bekas sulit diakses meski bernilai.
Bagi penghobi home lab dengan anggaran terbatas, strategi Tsuto menunjukkan bahwa komponen fungsional masih bisa didapat tanpa harga ritel penuh. Namun, keberhasilannya bergantung pada akses ke fasilitas daur ulang yang terbuka, plus kemauan memilah dan merakit sendiri.