BMKG Ungkap Bantul Alami Hari Tanpa Hujan 131 Hari Akibat El Nino

Penulis: Prayoga Santana  •  Selasa, 22 September 2026 | 15:18:01 WIB
BMKG mencatat Bantul mengalami 131 hari tanpa hujan berurutan akibat El Nino kategori sangat kuat.

KALIMANTAN TIMUR — Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat rekor Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang di Indonesia dengan 131 hari berurutan tanpa hujan sepanjang periode El Nino 2026. BMKG menyebut kekeringan meteorologis ekstrem ini meluas ke pos pengamatan iklim di 25 provinsi, dipicu anomali suhu muka laut Samudra Pasifik yang menembus +2,63. Kondisi ini berdampak pada 556 Zona Musim atau 61,91 persen luas daratan Indonesia.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan tren kekeringan meteorologis ekstrem kini melanda pos-pos pengamatan iklim di 25 provinsi. Sejumlah lokasi melaporkan HTH berurutan lebih dari 60 hari, dengan rekor terpanjang tercatat di wilayah Bantul.

Penyebab Kekeringan Ekstrem 2026

Meluasnya periode tanpa hujan dipicu fenomena El Nino kategori sangat kuat di Samudra Pasifik. Anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 pada periode Juli-September 2026 menembus angka +2,63.

Tekanan iklim tersebut berdampak langsung pada 556 Zona Musim (ZOM) atau 61,91 persen luas daratan Indonesia yang masih terbelenggu musim kemarau panjang. Dampak lain, 98 dari total 110 ZOM berkategori basah sepanjang tahun berbalik mengalami kemarau.

Wilayah Paling Terdampak

Bantul menjadi wilayah dengan durasi HTH terpanjang, yakni 131 hari atau lebih dari empat bulan tanpa hujan. Angka ini jauh melampaui ambang batas HTH berurutan yang umumnya dianggap kritis bagi sektor pertanian dan ketersediaan air.

"Banyak lokasi pengamatan melaporkan HTH berurutan lebih dari 60 hari. Rekor HTH terpanjang saat ini berada di wilayah Bantul yaitu sepanjang 131 hari," ucap Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9), dikutip dari Antara.

Kapan Musim Hujan Tiba

Kendati El Nino diproyeksikan bertahan hingga kuartal pertama 2027, BMKG memprakirakan dampak kekeringan ekstrem berangsur mereda seiring masuknya awal musim hujan secara bertahap. Awal musim hujan diawali pada November 2026 sebanyak 185 ZOM atau 24,66 persen luas daratan.

Fase berikutnya menyusul Desember 2026 sebanyak 266 ZOM atau 17,31 persen luas daratan. Meski kedatangannya terlambat, akumulasi curah hujan pada 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia diprediksi berada pada kategori normal.

Proyeksi Puncak Musim Hujan

BMKG memproyeksikan puncak musim hujan terjadi secara bergelombang mulai Desember 2026 di 155 ZOM atau 36,94 persen daratan. Puncak berikutnya berlangsung Januari 2027 di 162 ZOM atau 25,68 persen daratan, hingga Februari 2027 di 190 ZOM atau 16,79 persen daratan.

Bagi pelaku usaha pertanian dan pengelola sumber daya air di wilayah terdampak, periode transisi ini menjadi jendela kritis untuk menyusun rencana tanam ulang dan mitigasi kekurangan air sebelum curah hujan kembali normal.

Reporter: Prayoga Santana
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top