KALIMANTAN TIMUR — Polymarket dilaporkan melobi regulator Uni Eropa dan Inggris untuk diklasifikasikan sebagai platform jasa keuangan, bukan situs perjudian. Upaya ini muncul setelah Spanyol memblokir akses Polymarket dan Kalshi pada Mei, disusul perintah pemblokiran dari Prancis pada Juli. Jika berhasil, Polymarket berpeluang membalikkan larangan serupa di sejumlah negara Eropa.
Platform prediksi pasar Polymarket tengah mendekati sejumlah regulator Eropa. Langkah itu ditempuh agar perusahaan tidak diatur sebagai operator judi, melainkan sebagai penyedia jasa keuangan.
Menurut laporan Financial Times, Polymarket sudah berbicara dengan Komisi Eropa dan European Securities and Markets Authority (ESMA). Perusahaan berharap kedua lembaga itu menyetujui pengawasan di bawah aturan MiFID, yaitu Markets in Financial Instruments Directive, hukum Uni Eropa yang menstandarkan aturan layanan investasi di kawasan tersebut.
Pendekatan serupa juga dilakukan ke Inggris. Perwakilan Polymarket dikabarkan bertemu Nikhil Rathi, CEO Financial Conduct Authority (FCA), otoritas pengawas jasa keuangan dan pasar di Inggris.
Polymarket adalah situs "prediction market" yang memungkinkan pengguna bertaruh pada hasil peristiwa dunia nyata. Objek taruhannya beragam, mulai dari pemilu, pertandingan olahraga dan turnamen, pembukaan box office film, hingga konflik internasional.
Model bisnis inilah yang membuat posisinya abu-abu di mata regulator. Polymarket menyebut layanannya bukan perjudian, sementara sejumlah negara Eropa memperlakukannya justru sebaliknya.
Spanyol memblokir Polymarket dan Kalshi pada Mei lalu. Pemblokiran dilakukan sambil otoritas setempat menyelidiki legalitas kedua platform yang beroperasi tanpa lisensi judi.
Pada Juli, Prancis memerintahkan penyedia layanan internet (ISP) memblokir akses warga ke Polymarket. Di bawah aturan yang berlaku sekarang, Polymarket wajib mengantongi lisensi judi di negara-negara Uni Eropa.
Aturan berbeda antarnegara anggota menjadi hambatan tersendiri bagi Polymarket untuk beroperasi di kawasan itu. Regulasi judi yang terfragmentasi membuat satu lisensi tidak cukup untuk menjangkau seluruh pasar Eropa.
FCA sebelumnya menyatakan punya kewenangan mengawasi prediction market untuk peristiwa "keuangan atau iklim tertentu". Namun, platform yang menawarkan perdagangan atas hasil politik dan olahraga berada di bawah kewenangan Gambling Commission, bukan FCA.
ESMA sendiri terlihat tidak antusias melonggarkan aturan prediction market di Uni Eropa. Lembaga itu baru-baru ini mengeluarkan peringatan bahwa praktik tersebut "rife with insider trading" atau marak perdagangan orang dalam.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah kasus perdagangan berbasis informasi orang dalam terungkap di platform semacam ini. Di antaranya melibatkan seorang karyawan Google, tiga kandidat politik, dan seorang staf Gedung Putih.
Polymarket juga dilaporkan membayar influencer media sosial untuk memposting video taruhan palsu sebagai iklan. Menurut laporan The Wall Street Journal sebelumnya, separuh dari taruhan "menang" dalam video-video palsu itu sebenarnya akan kalah jika dipasang sungguhan.
Praktik tersebut menambah daftar sorotan terhadap model promosi platform prediction market, terlepas dari perdebatan status hukumnya di Eropa.
Klasifikasi sebagai platform jasa keuangan akan membuka jalan bagi Polymarket untuk beroperasi di bawah satu kerangka aturan Uni Eropa, alih-alih mengurus lisensi judi di masing-masing negara. Skema itu juga berpotensi membalikkan larangan yang sudah berlaku di Spanyol dan Prancis.
Namun jalan menuju ke sana tidak mulus. ESMA memegang posisi hati-hati, sementara FCA membatasi ruang lingkup pengawasan pada jenis peristiwa tertentu saja. Bagi pengguna di Eropa dan Inggris, kepastian akses ke Polymarket masih bergantung pada hasil lobi yang belum tuntas ini.