BALIKPAPAN — KPU Kota Balikpapan menutup rangkaian Kompetisi Debat Demokrasi antar perguruan tinggi dengan STIEPAN sebagai juara pertama. Tujuh kampus di Kota Balikpapan mengirimkan timnya ke kompetisi tersebut, yakni Universitas Balikpapan (Uniba), STIEPAN, Universitas Mulia, Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Sekolah Tinggi Agama Islam Balikpapan (STAIBA), STIS Hidayatullah, dan STT Migas.
Babak final mempertemukan dua laga sekaligus. Perebutan juara ketiga dan keempat mempertemukan STT Migas dengan Universitas Mulia, sementara perebutan gelar juara pertama mempertemukan Uniba dengan STIEPAN. STIEPAN berhasil mengungguli Uniba dan mengunci posisi juara pertama.
Ketua KPU Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono, menilai kemampuan argumentasi para peserta berada di atas rata-rata. Ia membandingkannya dengan pengalaman berdebatnya sendiri saat masih kuliah.
"Dulu saya zaman kuliah. Saya rasa-rasanya tidak seberkualitas kalian dalam berdebat dan beradu argumentasi. Oleh karena itu, saya bangga dengan kalian," kata Yudho.
Pernyataan itu disampaikan di hadapan peserta kompetisi. Yudho menempatkan debat sebagai ukuran kemampuan nalar mahasiswa, bukan sekadar ajang menang-kalah.
Menurut Yudho, kompetisi debat demokrasi merupakan bagian dari sosialisasi dan pendidikan pemilih berkelanjutan yang dikemas dengan metode berbeda. Ia menilai metode debat lebih efektif dibandingkan sosialisasi tatap muka yang cenderung berupa monolog.
"Kalau sosialisasi tatap muka itu yang ada monolog dari narasumber, pembicara satu arah kepada audiens dan peserta sosialisasi. Tetapi lomba debat ini merupakan bentuk lain dari sosialisasi," katanya.
Dengan debat, peserta tidak hanya menerima materi. Mereka dituntut menggali informasi, memadukan, serta membandingkan berbagai data sebelum menyusun argumen.
Yudho menjelaskan, subtema yang diberikan kepada peserta tidak memiliki satu jawaban mutlak yang sepenuhnya benar. Kondisi itu memaksa tim menyusun posisi berdasarkan data dan penalaran, bukan hafalan.
Format kompetisi seperti ini menempatkan mahasiswa sebagai subjek pendidikan pemilih. Mereka berlatih memahami persoalan kepemiluan dari sudut pandang berbeda, lalu mempertahankannya di depan lawan debat.
KPU Kota Balikpapan menjadikan kompetisi debat sebagai bagian dari rangkaian pendidikan pemilih yang berjalan berkelanjutan. Tujuh kampus yang terlibat menjadi jejaring awal untuk menjangkau pemilih muda di lingkungan perguruan tinggi.