Pencarian

Penutupan Ponpes Ibadurrahman di Kukar Tuai Protes, TRC PPA Kaltim Buka Suara soal Nasib Korban dan Santri

Selasa, 07 Juli 2026 • 18:53:02 WIB
Penutupan Ponpes Ibadurrahman di Kukar Tuai Protes, TRC PPA Kaltim Buka Suara soal Nasib Korban dan Santri
Kuasa hukum TRC PPA Kaltim membantah tuduhan sebagai penyebab penutupan Ponpes Ibadurrahman.

Kritik dari orang tua santri yang menilai TRC sebagai biang keladi penutupan Ponpes Ibadurrahman langsung ditepis. Kuasa hukum korban sekaligus perwakilan TRC PPA Kaltim, Sudirman, menyebut tuduhan itu merupakan cara pandang keliru dari pihak yang tidak sepaham.

“Katanya penutupan pondok ini akibat desakan TRC. Ya, itu salah satu cara berpikir dari yang bersangkutan. Itu pandangan mereka,” ujarnya usai rapat dengar pendapat bersama orangtua santri di DPRD Kukar, Senin (6/7/2026).

Menurut Sudirman, keputusan mendesak penutupan tidak diambil tanpa dasar. Pihaknya menempatkan diri pada posisi korban, yakni para santriwati dan santri yang mengalami kekerasan seksual di lingkungan ponpes tersebut.

Pertimbangan Berat di Balik Desakan Penutupan

Sudirman menjelaskan, apa yang dialami para korban di Ponpes Ibadurrahman sangat luar biasa. Kondisi ini mendorong TRC bertindak tegas, bukan semata ingin merugikan pesantren atau menghambat pendidikan santri lain.

“Kenapa kemudian kami dari TRC bisa melakukan hal itu? Karena kami menempatkan diri pada posisi korban. Apa yang mereka alami itu sangat luar biasa,” kata Sudirman.

Meski demikian, ia mengakui penutupan ponpes menimbulkan masalah baru, terutama bagi santri yang tidak terlibat kasus. Proses belajar mengajar mereka terhenti, dan konsekuensi ini tidak bisa diabaikan begitu saja.

Nasib Santri Terdampak: Solusi Harus Segera Hadir

TRC menilai pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, memiliki kewenangan penuh menentukan langkah selanjutnya. Salah satu opsi yang disarankan adalah memindahkan para santri ke ponpes lain yang masih beroperasi di Kalimantan Timur.

“Yang menjadi korban dari kebijakan ini sebenarnya adalah proses belajar mengajar mereka. Padahal seharusnya ada solusi yang bisa diberikan,” ujar Sudirman.

Ia menambahkan, Ponpes Ibadurrahman bukan satu-satunya lembaga pendidikan Islam di Kaltim. Masih ada ribuan ponpes lain yang bisa menjadi alternatif bagi santri terdampak penutupan.

Jangan Lupakan Nasib Korban yang Masih Berjuang

Di tengah polemik yang menyita perhatian publik, Sudirman mengingatkan agar fokus tidak sepenuhnya beralih ke dampak penutupan. Menurutnya, masih banyak korban kekerasan seksual di Ponpes Ibadurrahman yang belum berani bicara dan tengah berjuang mendapatkan keadilan.

“Yang perlu dipikirkan juga adalah bagaimana solusi bagi para korban yang saat ini sedang memperjuangkan keadilan. Dan masih banyak lagi korban-korban lain yang belum berani berbicara atau menyampaikan apa yang mereka alami,” tutupnya.

Bagikan
Sumber: komparasinews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks