KALIMANTAN TIMUR — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama dua pekan. Periode ini berlangsung mulai 15 Agustus hingga 28 Agustus 2026, menjadi dasar bagi percepatan penyaluran logistik dan evakuasi warga terdampak.
Di tengah masa tanggap darurat itu, aktivitas warga di pengungsian berjalan apa adanya. Di Marapokot dan Mbay, Kabupaten Nagekeo, para pengungsi terlihat memasak di dekat tenda, mencuci peralatan dapur, serta mengantre mengambil air bersih. Sebagian lainnya beristirahat di bawah terpal seadanya di lapangan terbuka.
Bayi Satu Bulan Ikut Bertahan di Pengungsian
Kondisi paling rentan terlihat di tenda-tenda darurat. Seorang bayi berusia satu bulan terpaksa tidur di dalam tenda pengungsian, tanpa jaminan fasilitas kesehatan yang memadai di lokasi pengungsian. Belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur dari pemerintah setempat.
Kebutuhan dasar menjadi prioritas utama para pengungsi. Air bersih menjadi komoditas yang paling dicari, terlihat dari warga yang membawa ember untuk mengisi persediaan di tenda masing-masing. Fasilitas mandi, cuci, dan kakus yang layak juga belum tersedia secara memadai di dua lokasi pengungsian tersebut.
Aktivitas Warga di Tengah Keterbatasan Fasilitas
Meski dilanda duka dan keterbatasan, warga tetap berusaha menjalankan rutinitas harian. Aktivitas memasak dilakukan di ruang terbuka dekat tenda, sementara peralatan masak dicuci bersebelahan dengan lokasi tenda. Tidak ada sekat yang memisahkan area privat dan publik di lokasi pengungsian.
Guncangan gempa magnitudo 7,7 yang terjadi pekan lalu telah meratakan sebagian bangunan di pesisir utara NTT. Warga yang rumahnya rusak atau hilang tersapu gelombang memilih bertahan di pengungsian sambil menunggu kepastian bantuan dari pemerintah pusat maupun provinsi.
Hingga Senin, 17 Agustus 2026, belum ada instruksi resmi dari pemerintah kabupaten mengenai kapan warga dapat kembali ke rumah masing-masing. Masa tanggap darurat yang berakhir 28 Agustus nanti akan menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan perpanjangan status atau transisi menuju fase rehabilitasi dan rekonstruksi.
Data resmi mengenai jumlah pengungsi dan tingkat kerusakan masih menunggu pendataan dari tim lapangan. Namun, dari gambaran yang terekam di dua titik pengungsian, kebutuhan mendesak saat ini adalah makanan siap saji, air bersih, tenda keluarga, serta layanan kesehatan bergerak untuk balita dan lansia.