SAMARINDA — Pemerintah Kota Samarinda bergerak mengatasi keluhan sopir angkutan barang yang kerap gagal mendapatkan solar bersubsidi setelah mengantre berjam-jam di SPBU. Selain menyiapkan fuel card, Dishub Samarinda kini merancang sistem nomor antrean digital yang terintegrasi langsung dengan stasiun pengisian bahan bakar umum.
Kepala Dishub Samarinda, Hotmarulitua Manalu, menegaskan sistem ini memberikan kepastian layanan bagi pengemudi yang telah terdaftar. Nomor antrean yang diterbitkan melalui sistem ISU akan menjadi jaminan bahwa kendaraan tersebut wajib dilayani sesuai rekomendasi kuota yang ditetapkan.
Antre Berjam-jam, Sopir Kerap Pulang Tanpa Solar
Kebijakan ini lahir dari temuan di lapangan. Hasil dialog langsung dengan para pengemudi menunjukkan banyak sopir yang biasanya mendapat jatah 20 hingga 30 liter solar, justru tidak mendapatkan BBM sama sekali setelah menunggu lama di antrean.
“Kemarin itu saya wawancara sopir, dia yang biasa dapat kuota 20 liter, 30 liter. Ternyata pada saat antre dapat 20 liter, dapat 30 liter, bahkan sudah lama-lama antre enggak dapat,” kata Manalu pada Rabu (26/8/2026).
Data Kendaraan Terintegrasi dengan Stasiun Pengisian
Melalui sistem ini, Dishub akan mengintegrasikan data kendaraan terdaftar dengan sistem pelayanan di SPBU. Setiap kendaraan yang telah memperoleh nomor antrean dipastikan mendapatkan pelayanan sesuai kuota yang telah direkomendasikan, sehingga tidak ada lagi sopir yang pulang dengan tangki kosong.
“Dengan nomor antrean ini, pasti akan dapat karena kami akan langsung link ke SPBU-nya. Ketika nomor antrean didapat dari ISU, berarti dia harus dilayani sesuai dengan yang kita rekomendasikan,” ujarnya.
CCTV Terpasang untuk Awasi Distribusi BBM
Pengawasan distribusi juga diperkuat dengan pemasangan kamera pengawas atau CCTV di titik-titik penyaluran BBM subsidi. Manalu menyebut perangkat tersebut telah terpasang untuk memantau proses pelayanan secara langsung.
Keberadaan CCTV bertujuan meningkatkan transparansi dan meminimalkan potensi penyimpangan di lapangan. Pemerintah dapat memantau aktivitas distribusi secara real-time dan memastikan proses berjalan sesuai aturan.
Menjaga Kuota Subsidi Tetap Tepat Sasaran
Manalu menegaskan kebijakan ini bukan untuk membatasi akses sopir terhadap BBM bersubsidi. Justru sebaliknya, sistem ini memastikan kuota yang tersedia dapat dinikmati oleh pihak yang berhak hingga akhir tahun anggaran.
“Sekali lagi tadi niat baik kita ini untuk bisa menjaga kuota bahan bakar subsidi itu di akhir tahun bisa terjaga dan tepat sasaran,” tegasnya.
Menanggapi potensi praktik penimbunan, Manalu optimistis sistem baru ini mampu mempersempit ruang penyalahgunaan kuota. “Soal penimbun saya optimistis enggak ada penimbun. Malah niat kami ini untuk menjaga kuota solar subsidi ini semua,” pungkasnya.