Pencarian

Ilmuwan Beberkan Penyebab Banjir Dahsyat Nepal: Gletser Runtuh Usai 60 Tahun Mencair

Minggu, 30 Agustus 2026 • 16:52:32 WIB
Ilmuwan Beberkan Penyebab Banjir Dahsyat Nepal: Gletser Runtuh Usai 60 Tahun Mencair
Lereng Gunung Langtang Lirung di Nepal ambrol dan menyeret gletser di bawahnya, memicu banjir dahsyat yang menerjang tiga distrik.

KALIMANTAN TIMUR — Sebagian besar lereng Gunung Langtang Lirung yang berada di ketinggian 7.000 meter ambrol dan menyeret gletser di bawahnya. Massa es, batu, dan puing yang terbentuk kemudian menghantam Sungai Lhende Khola dan terus membesar sebelum menerjang tiga distrik di Nepal: Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading.

Jeffrey Kargel, ilmuwan dari Planetary Science Institute, menghitung aliran material tersebut menempuh 22 kilometer pertama dengan kecepatan rata-rata 193 km/jam. Permukaan sungai di lembah terdampak naik hingga sembilan meter hanya dalam waktu setengah jam.

Bukan Kejadian Pertama di Kawasan yang Sama

Wilayah Langtang memiliki riwayat bencana serupa. Pada Juli 2025, banjir menewaskan sembilan orang setelah hujan deras membuat Sungai Lhende dan Bhote Koshi meluap. Namun, keruntuhan gletser skala besar seperti kali ini menunjukkan tingkat kerentanan yang jauh lebih tinggi.

Pemanasan 5 Kali Lebih Cepat dari Rata-rata Global

Penelitian Bethan Davies, profesor glasiologi dari Newcastle University, mengungkap wilayah di atas 4.000 meter di tangkapan air Langtang menghangat sekitar lima kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global sejak 1960-an. Tren ini semakin tajam dalam satu dekade terakhir.

Salah satu pemicunya adalah mencairnya salju dan es yang memperlihatkan batuan gelap di bawahnya. Batuan gelap menyerap lebih banyak panas, mempercepat pemanasan gunung secara keseluruhan. Ella Gilbert, ilmuwan iklim dari British Antarctic Survey, mencatat laju hilangnya es dari gletser Himalaya berlipat ganda sejak tahun 2000.

"Kita tahu pemanasan iklim membuat gletser di Himalaya jadi tidak stabil. Ketika stabilitas gletser terganggu, keruntuhan mendadak dapat terjadi dan memicu tragedi seperti ini," papar Gilbert.

Permafrost yang Mencair dan Hilangnya "Lem" Pegunungan

Dr. Davies juga menyoroti mencairnya permafrost, lapisan tanah yang biasanya tetap membeku sepanjang tahun untuk menjaga lereng gunung tetap kokoh. "Permafrost ibarat 'lem' perekat batu-batuan," katanya.

Ketika tanah menghangat dan "lem" tersebut mencair, lereng curam seperti di atas Langtang Lirung semakin tidak stabil. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan menyusutnya gletser, salju, dan permafrost membuat kawasan pegunungan dunia makin tak stabil. Peristiwa seperti di Nepal diperkirakan kian sering seiring menghangatnya iklim.

Meski demikian, para ahli belum menghubungkan bencana ini secara langsung dengan perubahan iklim. "Kemungkinan besar ada kombinasi berbagai faktor berperan dan kita tahu bahwa semuanya diperparah perubahan iklim," kata Dr. Gilbert.

Nepal Hanya Menyumbang 0,1 Persen Emisi, tapi Bayar dengan Nyawa

Bencana ini menyoroti ketimpangan besar dalam krisis iklim. Nepal menghasilkan kurang dari 0,1 persen emisi gas rumah kaca global, namun termasuk negara paling rentan terhadap bencana terkait perubahan iklim.

"Mereka yang paling sedikit berkontribusi justru membayar harga termahal, terutama dengan nyawa," kata Savio Carvalho dari organisasi kampanye 350.org.

Carvalho mencontohkan sistem peringatan dini di Pegunungan Alpen yang jauh lebih maju dibanding Nepal. "Seandainya Nepal memiliki teknologi yang baik seperti Swiss atau Italia untuk kawasan Alpen, mereka tentu bisa memiliki sistem prakiraan lebih baik."

Ia juga menyoroti bantuan internasional yang sering tiba setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dan dalam banyak kasus diberikan sebagai pinjaman sehingga menambah beban utang negara miskin. Carvalho menyerukan pengenaan pajak atas keuntungan besar perusahaan bahan bakar fosil untuk membantu penanganan bencana di negara-negara berkembang.

Follow halobalikpapan.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks