KUTAI KARTANEGARA — Bupati Kutai Kartanegara dr Aulia Rahman Basri, M.Kes, bersama istrinya Andi Deezca Pravidhia Aulia, menebar satu ton benih padi di atas permukaan air Danau Semayang. Acara bertajuk "Penebaran Benih Padi Mendukung Kearifan Lokal Bupati dan Wakil Bupati Kutai Kartanegara" itu digelar di Kecamatan Kenohan pada 1 September 2026.
Keduanya menuju lokasi dengan perahu ketinting, lalu turun ke danau yang airnya hanya sebatas lutut. Benih padi ditebar bersama sejumlah undangan yang hadir. Peristiwa itu lantas tersebar luas di media sosial dan memicu tanggapan pro maupun kontra dari warganet.
Danau Semayang Mengering Saat Kemarau
Aulia menjelaskan, efek El Nino atau kemarau berkepanjangan membuat Danau Semayang mengering. Kondisi itu dimanfaatkan untuk menanam padi dengan cara yang tidak biasa.
"Metodenya sedikit unik memang, kita menabur di atas air. Sudah ada buktinya sebelah sana, tuh padi-padi yang ditabur tumbuh dengan baik. Insyaallah 3,5 bulan kemudian kita akan balik ke sini untuk panen raya," kata Aulia.
Danau Semayang berada di aliran Sungai Mahakam, tepatnya di Daerah Mahakam Tengah. Luasnya sekitar 13 ribu hektare dengan kedalaman saat air pasang mencapai 3,5 meter. Danau ini bertetangga dengan Danau Melintang dan Danau Jempang.
Ketiga danau tersebut dikenal sebagai lumbung ikan air tawar, mulai dari biawan, haruan, pepuyu, baung, hingga lais. Udang air tawar dari kawasan ini juga terkenal lezat. Ekosistemnya merupakan perairan paparan banjir yang melimpah saat musim hujan dan bisa mengering jadi daratan luas di musim kemarau.
Petani: Sudah Dipraktikkan Sejak 1997
Akun KALTIMFOLKS bersama Pemkab Kukar mengungkap penjelasan petani yang terlibat dalam penebaran benih. Menurut petani itu, pola tanam padi dengan cara ditebar sudah dilakukan sejak 1997 di era Bupati Kutai Sulaiman dan Syaukani.
"Cuma baru sekarang viral," ujarnya.
Petani tersebut menjelaskan, pola tanam ini dipilih karena petani atau nelayan kepepet waktu. Penebaran dilakukan saat musim kemarau dan biayanya lebih murah dibanding cara tanam biasa.
"Habis ditebar pasti panen 100 hari. Hasilnya sama seperti tanam padi di darat," katanya.
Ada teknik khusus saat melempar benih ke air. Petani menyebut benih harus disebar empat meter ke kiri, empat meter ke kanan, empat meter ke belakang, dan empat meter ke muka. Lemparannya pun harus kuat agar benih tidak jatuh menumpuk di satu titik.
Pro dan Kontra di Media Sosial
Seorang warganet perempuan menulis komentar dalam bahasa Jawa sambil menyindir aksi Bupati Kukar. Ia mempertanyakan nasib benih yang ditebar di danau yang dihuni banyak ikan.
"Ini skenario model apa lagi, kok bisa-bisanya Bupati Kukar tabur 1 ton benih padi di Danau Semayang. Terus katanya tiga bulan lagi panen. Lho apa benihnya ngga dipangan iwak," tanyanya.
Ia juga menilai penebaran benih itu sebagai perbuatan sia-sia. "Morat-marit, morat-marit, ya nggak mungkin bisa diam benihnya karena dibawa arus air, jadinya mubazir," katanya.
Bupati Aulia menyebut cara ini sebagai kearifan lokal yang menurutnya miracle. Sistem pertanian padi di atas air dikenal dengan nama padi apung dan telah dikembangkan di sejumlah daerah berawa di Indonesia, seperti Desa Banyu Hirang dan Desa Hamayung di Kalimantan Selatan, serta beberapa wilayah di Jawa dan Sumatera.