SAMARINDA — Pemerintah Kota Samarinda akan mengevaluasi pengelolaan parkir dan tingkat keterisian lapak di Pasar Pagi, menyusul keluhan pedagang soal sepinya pengunjung yang tak kunjung membaik. Langkah ini diambil meski sebagian besar pedagang sudah kembali berjualan secara rutin di lokasi.
Kepala Dinas Perdagangan Samarinda menyebut dua aspek itu menjadi prioritas karena langsung memengaruhi kenyamanan pembeli. "Parkir yang semrawut dan banyak lapak kosong membuat calon pembeli enggan datang," ujarnya dalam rapat internal pekan lalu.
Area parkir di Pasar Pagi dinilai tidak tertata. Kendaraan roda dua dan roda empat bercampur tanpa jalur khusus, menyebabkan kemacetan di jam sibuk pagi hari. Banyak pengunjung mengaku memilih pasar lain karena kesulitan memarkir kendaraan.
Pemkot berencana menata ulang zona parkir dan menambah petugas pengatur lalu lintas di pintu masuk utama. Opsi penerapan sistem parkir berlangganan bagi pedagang juga tengah dikaji.
Tingkat keterisian lapak di Pasar Pagi saat ini belum mencapai 70 persen. Sejumlah los dan kios di lantai dua nyaris tidak terisi, menimbulkan kesan pasar mati. Padahal, sebelum pandemi, tingkat okupansi bisa mencapai 90 persen.
Dinas Perdagangan akan mendata ulang pedagang yang masih aktif dan yang sudah tidak berjualan. Lapak yang ditinggalkan akan ditawarkan kembali ke calon pedagang baru dengan skema sewa yang lebih ringan.
Untuk mengisi lapak kosong, Pemkot Samarinda menyiapkan insentif berupa pembebasan retribusi selama enam bulan pertama bagi pedagang baru. Kebijakan ini diharapkan bisa menarik minat pelaku UMKM yang selama ini berjualan di pinggir jalan atau di pasar tumpahan.
Selain itu, jam operasional pasar juga akan diperpanjang hingga sore hari agar lebih kompetitif dengan pusat perbelanjaan modern. "Kami ingin Pasar Pagi kembali jadi tujuan utama belanja warga Samarinda, bukan sekadar pasar sisa," kata Kepala Dinas.
Pemkot menargetkan hasil evaluasi parkir dan keterisian lapak sudah bisa diimplementasikan dalam satu hingga dua bulan ke depan. Tim teknis dari Dinas Perhubungan dan Dinas Perdagangan saat ini masih melakukan survei lapangan untuk memastikan kebijakan tepat sasaran.
Pedagang berharap evaluasi tidak hanya berhenti di atas kertas. "Kami butuh aksi nyata, bukan rapat terus. Kalau parkir rapi dan lapak penuh, pembeli pasti datang lagi," ujar Sumarni, salah satu pedagang sembako di Pasar Pagi.