SAMARINDA — Masa stabil harga TBS sawit yang sempat dinikmati petani di Kalimantan Timur hanya berlangsung singkat. Memasuki akhir Mei 2026, angka di papan timbangan justru menunjukkan tren negatif yang kembali menguji ekonomi kerakyatan di sektor perkebunan.
Plt Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Ahmad Muzakkir, mengonfirmasi bahwa kondisi ini merupakan imbas dari dinamika pasar global. Harga CPO dan kernel disebut tengah mengalami koreksi di hampir seluruh perusahaan sumber data.
“Penurunan ini tentu berdampak langsung pada harga TBS yang diterima petani sawit di Kaltim,” ungkap Muzakkir dalam keterangan resminya, Selasa (2/6/2026).
Berdasarkan data resmi yang dirilis Dinas Perkebunan, harga rata-rata tertimbang CPO kini dipatok di angka Rp 15.188,44 per kilogram. Sementara itu, kernel berada di level Rp 14.780,48 per kilogram.
Penurunan ini membuat harga beli TBS bervariasi tergantung usia tanam. Berikut rincian lengkapnya:
Di tengah harga yang fluktuatif, Muzakkir mengingatkan bahwa daftar harga tersebut merupakan standar resmi bagi petani yang telah menjalin kemitraan dengan pabrik kelapa sawit (PKS), khususnya kebun plasma. Tanpa ikatan resmi, petani dinilai sangat rentan terhadap permainan harga tengkulak.
“Kami berharap melalui kerja sama kelompok tani dengan pabrik, harga tetap stabil sesuai standar dan tidak dipermainkan,” tambahnya.
Kemitraan ini disebut sebagai “sekoci” penyelamat di tengah badai harga. Petani yang tergabung dalam skema plasma setidaknya memiliki kepastian harga acuan yang jelas setiap periodenya.
Penurunan harga TBS secara langsung memangkas pendapatan harian petani. Untuk sawit usia produktif 10 tahun ke atas yang sebelumnya dihargai lebih tinggi, kini harus diterima di angka Rp 3.617,10 per kg. Meski masih lebih baik dibanding tanaman muda, selisih harga ini cukup terasa di kantong.
Belum ada kepastian kapan harga akan kembali pulih. Pemerintah daerah melalui Dinas Perkebunan terus memantau pergerakan harga CPO global. Fluktuasi diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa pekan ke depan seiring dinamika permintaan pasar internasional.