KALIMANTAN TIMUR — Jakarta — Belanja obat kini tak lagi harus mengantre di apotek. Lewat fitur GoMed di super-app Gojek, pengguna bisa memesan obat langsung dari apotek mitra seperti Kimia Farma, Century, atau Guardian, dan menerimanya dalam waktu 30-45 menit. Layanan ini mengintegrasikan logistik instan dengan platform kesehatan digital Halodoc, menciptakan ekosistem health-tech yang mengubah kebiasaan konsumsi obat masyarakat pasca-pandemi.
Prosesnya dimulai dari aplikasi Gojek. Pengguna cukup menekan ikon palang medis GoMed, lalu memilih kategori obat: bebas (lingkaran hijau), bebas terbatas (lingkaran biru), atau obat keras (lingkaran merah). Untuk obat keras, sistem mewajibkan unggahan resep dokter—baik dari konsultasi telemedis Halodoc maupun resep fisik yang difoto.
Sistem GPS langsung mendeteksi lokasi pengguna dan mencocokkan dengan apotek mitra terdekat. Tujuannya jelas: menekan ongkos kirim dan memastikan obat sampai dalam waktu kurang dari satu jam. Setelah pembayaran diverifikasi—via GoPay, PayLater, atau kartu kredit—pesanan diteruskan ke driver Gojek yang akan menjemput obat di apotek.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat peredaran obat palsu di pasar gelap digital masih menjadi ancaman serius. GoMed menawarkan rantai pasok yang terpantau digital: semua apotek mitra wajib memiliki Surat Izin Apotek (SIA) dan Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA). Obat dikirim langsung dari apotek fisik legal ke tangan konsumen, tanpa perantara pihak ketiga yang tidak terverifikasi.
Kemasan obat pun disegel rapat untuk menjaga privasi pengguna. Riwayat transaksi tersimpan otomatis, memudahkan konsumen memantau penggunaan obat di masa lalu saat konsultasi dokter berikutnya.
Kendala utama pengguna baru biasanya muncul saat membeli obat keras. Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) mewajibkan resep dokter untuk obat golongan tertentu—guna mencegah penyalahgunaan dan resistensi antibiotik. Di platform GoMed, pengguna bisa langsung melakukan konsultasi dokter secara daring, mendapatkan resep digital, lalu menebusnya dalam satu alur tanpa keluar aplikasi.
Riset internal menunjukkan integrasi ini memangkas waktu tunggu obat hingga 60 persen dibandingkan metode konvensional di kota-kota besar. Bagi masyarakat urban dengan mobilitas tinggi, layanan ini menjawab kebutuhan medis yang kerap muncul mendadak—tanpa mengorbankan keaslian produk.