Setelah sempat kehilangan arah dengan beberapa generasi yang kurang greget, Dell kembali ke bentuk terbaiknya lewat XPS 16. Bukan sekadar penerus, laptop ini adalah pernyataan bahwa pabrikan asal Amerika Serikat itu masih bisa bersaing di segmen paling sengit: desktop replacement premium.
XPS 16 dibalut sasis ramping yang menjadi ciri khas seri XPS. Namun, yang membuatnya menonjol adalah opsi layar OLED sentuh—sebuah fitur yang jarang ditemukan di laptop sekelasnya. Panel ini menjanjikan hitam yang lebih pekat dan warna yang lebih akurat, cocok untuk kreator konten atau sekadar menonton film HDR.
Dell tidak main-main dengan spesifikasi. Mesin ini ditenagai prosesor generasi terbaru dan kartu grafis diskret yang mumpuni. Sayangnya, harga yang dibanderol juga premium. Jika dikonversi, banderol yang beredar di pasar global menyentuh angka belasan hingga puluhan juta rupiah—tergantung konfigurasi.
Yang menarik dari kebangkitan XPS 16 bukan hanya urusan teknis. Lebih dari itu, ini adalah sinyal bahwa Dell mendengar kritik penggemar setianya. Beberapa tahun terakhir, seri XPS sempat dianggap kehilangan jiwa karena perubahan desain yang kontroversial dan pilihan port yang membingungkan.
Dengan XPS 16, Dell seperti kembali ke akar: memberikan laptop tipis yang tidak mengorbankan performa. Bagi pengguna Indonesia yang selama ini bertahan dengan laptop gaming tebal atau PC rakitan, kehadiran XPS 16 bisa menjadi alternatif menarik—dengan catatan, anggaran bukan masalah utama.
Hingga berita ini diturunkan, Dell belum mengumumkan ketersediaan resmi XPS 16 di pasar Tanah Air. Namun, melihat pola distribusi sebelumnya, laptop ini kemungkinan akan masuk ke Indonesia melalui jalur ritel resmi atau distributor pihak ketiga dalam beberapa bulan mendatang.
Bagi yang tidak sabar, opsi impor pribadi selalu terbuka. Tapi ingat, harga yang tertera di luar negeri belum termasuk bea masuk dan pajak—bisa membuat dompet menjerit lebih keras.