KALIMANTAN TIMUR — Donald Trump meningkatkan aktivitas media sosialnya dengan membahas isu tak lazim, mulai dari rencana pembangunan gerbang kemenangan di Washington DC hingga pembelaan terhadap kecerdasan buatan. Postingan tersebut muncul di tengah kekhawatiran publik soal kondisi mentalnya dan potensi dampak terhadap elektabilitas Partai Republik pada pemilu sela November mendatang.
Pernyataan terbaru Donald Trump di platform media sosialnya menyita perhatian publik Amerika Serikat. Dalam unggahan Minggu dini hari, ia mengumumkan niat mengubah rencana pembangunan gerbang di Washington DC yang semula dirancang sebagai fasilitas penyimpanan militer.
Trump mengklaim perubahan tersebut merupakan permintaan langsung dari pihak militer AS. Ia tidak menyertakan bukti apa pun untuk mendukung pernyataannya itu.
Dalam unggahan terpisah, Trump memosisikan diri sebagai pembela pengembangan kecerdasan buatan. Ia menepis kekhawatiran yang belakangan muncul soal risiko AI terhadap peradaban manusia.
Trump justru menggambarkan isu tersebut sebagai sasaran terbaru dari apa yang ia sebut sebagai berita bohong. Menurutnya, narasi negatif soal AI sengaja dibangun oleh lawan politiknya.
"Semuanya dibuat oleh kaum kiri radikal 'Dumocrat' (plesetan ejekan untuk Demokrat), demi tujuan menghancurkan negara kita," ujar Trump.
Ia kemudian mengumumkan rencana membentuk pasukan AI yang dipimpin seorang "Czar AI". Model ini mengikuti pola Angkatan Antariksa yang dibentuk pada masa jabatan pertamanya.
Trump memproyeksikan AI sebagai revolusi industri berikutnya yang dampaknya jauh lebih besar dari internet. Ia bahkan menyebut sektor ini berpotensi menyumbang hingga 25% dari PDB Amerika Serikat.
"AI adalah Revolusi Industri atau Internet berikutnya, namun akan jauh lebih besar dan berdampak lebih luas, bahkan mungkin menyumbang hingga 25% dari PDB negara kita," tulisnya.
"Kita mengungguli China dan seluruh dunia, dan saya berniat untuk mempertahankan posisi itu," ujarnya.
Unggahan lain berjudul "Belahan Bumi Miliknya" (His Hemisphere) menampilkan Trump sedang menatap peta dunia. Postingan ini secara tersirat mengisyaratkan sikap dominan terhadap kawasan tertentu.
Konteksnya, kurang dari sembilan bulan sebelumnya, pasukan AS menangkap mantan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro di kediamannya di Caracas. Maduro dan istrinya dibawa secara diam-diam ke New York.
Sejak penangkapan itu, pemerintahan Trump terus menggembar-gemborkan kesepakatan yang memberi mereka kendali atas sebagian besar cadangan minyak Venezuela. Postingan peta dunia tersebut memperkuat narasi kontrol Amerika atas sumber daya di belahan bumi.
Aktivitas media sosial Trump belakangan mengisyaratkan kondisi yang tidak stabil. Pola serupa pernah muncul dalam penampilannya di forum PBB.
Tahun lalu, Trump mengejutkan hadirin forum PBB dalam penampilan pertamanya sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari sebelumnya. Ia menyatakan negara-negara yang hadir sedang menuju kehancuran.
Dalam pidato itu, Trump melancarkan serangan tajam ke PBB dan konsep perbatasan terbuka. Pada 2017, ia juga menyerang sekutu-sekutu lamanya, khususnya Jerman terkait kebijakan energi.
Trump menyebut AS tidak bisa lagi dimanfaatkan atau terlibat dalam kesepakatan sepihak yang tidak memberikan imbalan apa pun. Pola retorika ini kembali muncul dalam unggahan-unggahan terbarunya.
Postingan Trump dianggap berpotensi menyeret turun performa partainya dalam pemilihan umum sela AS bulan November mendatang. Tingkat kepuasan publik terhadap dirinya sedang berada di posisi rendah.
Alih-alih meredam kekhawatiran, rangkaian unggahan tersebut justru memperkuat pertanyaan publik soal stabilitas mentalnya. Isu AI dan gerbang Washington menjadi sorotan karena dianggap tidak lazim dibahas melalui media sosial.
Partai Republik menghadapi risiko kehilangan kursi jika elektabilitas Trump terus menurun. Sejauh mana dampaknya terhadap hasil pemilu sela masih menjadi pertanyaan terbuka menjelang November.