SAMARINDA — Perayaan tersebut tidak digelar di gedung pertemuan, melainkan di tepian sungai yang menjadi fokus gerakan organisasi selama lebih dari satu dekade. Lima kategori perlombaan disiapkan, mulai dari lomba memungut sampah berpasangan hingga fun race open men sejauh 5 kilometer.
GMSSSKM didirikan oleh para wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur. Selama 11 tahun, organisasi ini bergerak membersihkan Karang Mumus dari sampah yang terus menyusup ke aliran sungai.
Panitia menyiapkan lima kategori yang menggabungkan semangat kompetisi dengan misi lingkungan. Lomba memungut sampah berpasangan menjadi daya tarik utama karena peserta berlomba mengumpulkan sampah sebanyak mungkin dari permukaan air.
Kategori lainnya adalah race 200 meter untuk kecepatan murni, fun race junior 2 kilometer, fun race open women 4 kilometer, dan fun race open men 5 kilometer. Setiap kategori terbuka bagi peserta dari berbagai usia dan latar belakang.
Dalam fun race, sekitar 30 hingga 40 peserta meluncur serentak di atas permukaan Karang Mumus. Deretan papan berwarna-warni bergerak menyusuri aliran sementara dayung naik turun menyentuh air.
Panitia menyiapkan sekitar 25 paddleboard, ditambah papan milik peserta maupun dukungan komunitas dari luar. Jumlah itu terbatas dibandingkan minat peserta yang datang.
Krisdiyanto, perwakilan panitia, menjelaskan bahwa keterbatasan papan justru mengajarkan peserta untuk berbagi kesempatan. Pengaturan dilakukan secara cermat agar semua yang ingin berpartisipasi tetap mendapat giliran turun ke air.
Ketua GMSSSKM Samarinda, Misman, menyampaikan makna di balik perayaan yang tak biasa tersebut. Menurutnya, ulang tahun organisasi tidak perlu dirayakan dengan pesta di ruang tertutup.
"Kami tak merayakan ulang tahun dengan pesta di gedung. Kami merayakannya di atas air yang memberi hidup. Karena sungai ini adalah ibu yang tak pernah berhenti memberi, maka kami pun tak boleh berhenti menjaga," ujar Misman.
Karang Mumus telah mengalir melewati masa sulit dan bahagia kota Samarinda. Sungai itu menyaksikan perubahan kota, menampung harapan warga, dan menyejukkan dahaga warganya.
Sampah perlahan menyusup ke tubuh sungai dan meredupkan kejernihan yang dulu menjadi kebanggaan warga Samarinda. Kesadaran menjaga aliran mengendur seiring kemajuan kota, sampah dibuang sembarangan, dan aliran terabaikan.
GMSSSKM lahir dari kesadaran bahwa tidak ada pihak lain yang akan menjaga sungai ini selain warga Samarinda sendiri. Ulang tahun ke-11 menjadi bukti keteguhan gerakan tersebut.
Setiap peserta yang meluncur di atas papan bukan sekadar mengikuti lomba. Mereka menjadi saksi mata kondisi sungai dan menyadari pentingnya menjaga aliran yang memberi kehidupan tetap bersih dan mengalir bebas.