KALIMANTAN TIMUR — Geely memperkenalkan teknologi Geely Smart Charge dengan daya puncak hingga 2.250 kW melalui satu konektor, mengklaim rekor industri baru di tengah persaingan pengisian cepat EV China. Klaim 4,5 menit ini terdengar revolusioner, tapi data pengujian CATARC justru menunjukkan angka puncak yang jauh lebih rendah di dunia nyata.
Teknologi ini diperkenalkan sebagai jawaban atas persaingan pengisian daya cepat yang semakin ketat di China, di mana BYD dan sejumlah merek lain berlomba menaikkan angka daya pengisian. Geely menyebut sistem ini sebagai lompatan besar, namun perlu dicatat bahwa sebagian besar angka yang dipublikasikan berasal dari kondisi pengujian ideal.
Geely Smart Charge mengandalkan model AI manajemen energi bernama Xingrui PowerMind untuk mengatur aliran daya dan suhu baterai secara real-time. Sistem ini memiliki tiga fungsi utama: Extreme Charge, Smart Charge, dan Auto Charge.
Yang menarik, algoritma prediksi termal di dalamnya mampu mengantisipasi fluktuasi suhu baterai hingga 30 detik ke depan. Data prediksi itu dipakai untuk menyesuaikan daya pengisian secara dinamis, dengan target menjaga suhu rata-rata baterai di bawah 55 derajat Celsius dan suhu puncak di bawah 65 derajat Celsius.
Geely mengklaim daya puncak hingga 2.250 kW (2,25 MW) melalui satu konektor, angka yang disebut mencetak rekor industri baru. Namun data pengujian dari China Automotive Technology and Research Centre (CATARC) menunjukkan gambaran berbeda.
Dalam pengujian tersebut, sebuah Lynk & Co 10 yang dilengkapi teknologi ini hanya mencatat daya pengisian puncak sebesar 1.093 kW. Angka itu memang masih sangat tinggi, tapi hanya sekitar setengah dari klaim puncak 2.250 kW yang digembar-gemborkan.
Pada pengisian daya ekstrem, panas adalah musuh utama. Baterai yang terlalu panas bisa mempercepat degradasi sel dan menurunkan usia pakai. Karena itu, kemampuan menjaga suhu di bawah ambang tertentu jadi parameter yang sama pentingnya dengan angka daya puncak.
Selama proses pengisian dari 10 hingga 97 persen, suhu baterai Lynk & Co 10 tetap berada di bawah 55 derajat Celsius selama 57 persen dari total durasi. Suhu maksimum yang tercatat adalah 64 derajat Celsius, masih di bawah batas puncak yang ditargetkan Geely.
Artinya, sistem manajemen termal bekerja cukup baik menahan panas, meski angka daya puncaknya tidak sebesar klaim. Untuk pengguna sehari-hari, konsistensi suhu ini lebih relevan dibanding angka puncak yang hanya muncul sesaat.
Klaim 4,5 menit pengisian penuh perlu dibaca dengan hati-hati. Angka itu kemungkinan mengacu pada kondisi ideal: baterai dalam rentang state of charge tertentu, suhu lingkungan terkontrol, dan konektor yang mendukung daya ekstrem. Di jalan raya, kondisi seperti ini jarang terpenuhi.
Selain itu, infrastruktur pengisian daya di Indonesia belum mendukung daya sebesar ini. Charger publik tercepat di Tanah Air saat ini masih jauh di bawah 1 MW, sehingga teknologi ini belum relevan untuk pengguna lokal dalam waktu dekat.
Geely juga belum mengumumkan ketersediaan teknologi ini di pasar Indonesia, termasuk model apa saja yang akan mendapatkannya. Informasi soal harga dan ketersediaan masih sebatas klaim di pasar China.
Geely Smart Charge menunjukkan arah industri EV China yang bergerak ke pengisian daya ultra-cepat. Sistem AI termalnya masuk akal secara teknis, dan data CATARC membuktikan bahwa pengisian di atas 1 MW sudah bisa dicapai di dunia nyata.
Meski begitu, selisih antara klaim 2.250 kW dan realita 1.093 kW adalah pengingat bahwa angka puncak di siaran pers sering kali berasal dari kondisi terbaik. Bagi konsumen, yang lebih penting adalah seberapa konsisten daya tinggi itu bertahan, bukan seberapa tinggi angka puncaknya sesaat.