KALIMANTAN TIMUR — Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% pada September 2026 meski Federal Reserve menaikkan suku bunganya. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut kenaikan 25 basis poin berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1%, sehingga bank sentral memilih instrumen lain yang lebih terarah untuk menjaga stabilitas dan mendorong arus modal masuk.
Keputusan tersebut disampaikan Destry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (28/9/2026). Ia menjelaskan bank sentral lebih dulu menjalankan assessment dan simulasi dampak kenaikan suku bunga terhadap perekonomian sebelum menetapkan sikap. Inflasi menjadi jangkar utama pertimbangan, dan kondisinya dinilai masih terkendali.
Destry menegaskan inflasi inti masih berada di kisaran 2%, sementara inflasi headline menyentuh 3,19%. Angka itu membuat BI merasa nyaman menahan suku bunga di level sekarang.
"Nah jadi pada saat kita kemarin juga menentukan kenapa BI nggak naikkan suku bunga kita, karena melihat bahwa karena anchor kita itu inflasi, anchor kita inflasi dan saat ini juga kami masih merasa nyaman dengan inflasi saat ini. Apalagi kita lihat core inflation itu masih di sekitar 2%-an. Bahwa core headline inflation akhirnya mencapai 3,19%," ujar Destry.
Pilihan menahan bunga bukan tanpa perhitungan. BI sudah menghitung berapa besar ekonomi bakal kehilangan momentum jika bunga dinaikkan.
Hasil assessment BI menunjukkan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1%. Dampaknya menyebar ke seluruh sektor karena kenaikan bunga langsung memukul biaya pembiayaan di semua lini.
"Karena kalau naikin BI itu dampaknya langsung kena semuanya gitu. Tapi kalau kita bermain targeted seperti yang kita lakukan untuk, apa namanya, untuk si insentif itu, itu dampaknya kan hanya kepada si info yang akan masuk dimana dia akan mendapatkan margin cost yang lebih murah gitu," kata Destry.
Dari situ BI memilih jalur lain: memberi insentif biaya hedging bagi investor. Lewat cara ini, bank sentral berharap arus modal asing tetap masuk tanpa harus mengorbankan pertumbuhan.
Insentif biaya hedging bekerja dengan menekan biaya lindung nilai bagi investor yang membawa dana masuk. Destry menyebut pendekatan ini jauh lebih terarah dibanding kenaikan bunga yang efeknya menyeluruh.
Strategi kombinasi kebijakan pun tak terhindarkan. Destry mengingatkan pertumbuhan ekonomi tetap menjadi perhatian utama BI, terlebih mandat bank sentral kini bertambah.
"Nah kemudian, jadi itu yang paling juga, kenapa mau nggak mau memang kita harus selalu mengkombinasikan kebijakan itu, karena pertumbuhan tetap menjadi concern kita karena mandat kita kan bertambah," sambungnya.
Bagi investor, sikap BI ini menandakan ruang likuiditas masih terbuka dan biaya lindung nilai valas berpotensi lebih murah. Pelaku usaha yang bergantung pada utang berbunga juga terhindar dari kenaikan biaya modal dalam waktu dekat.
Namun ketegangan tetap ada. Selisih suku bunga BI dan The Fed yang melebar bisa menekan rupiah jika arus modal asing melambat. Di titik inilah insentif hedging diuji, apakah cukup menahan investor untuk tetap menempatkan dana di pasar domestik.
Ke depan, arah kebijakan BI akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi inti dan headline. Selama keduanya bertahan di kisaran sekarang, ruang untuk menahan bunga tetap terbuka lebar.