Kemarau Panjang Kaltim, 13 Orangutan Keluar dari Hutan Sejak Juli, Satu Alami Dehidrasi Berat

Penulis: Okta Nugraha  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:17:01 WIB
Orangutan jantan dievakuasi dari Desa Menamang Kanan, Kutai Kartanegara, setelah keluar dari habitat akibat kemarau panjang.

BALIKPAPAN — Kemarau panjang yang melanda Kalimantan Timur memaksa sejumlah orangutan meninggalkan habitatnya. Founder Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto, menyebut dua di antaranya merupakan orangutan jantan yang ditemukan dalam peristiwa berbeda.

Orangutan pertama ditemukan di Desa Menamang Kanan, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara, pada 14 September. Satwa itu sebelumnya sempat viral setelah direkam operator ekskavator.

Dehidrasi Berat dan Malnutrisi

Setibanya di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam yang dikelola CAN Borneo di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Berau, kondisi orangutan tersebut sangat buruk. Bobot tubuhnya jauh di bawah normal dengan body condition score 1 dari 5.

"Saat tiba di PRS Long Sam, satwa ini sangat lemah. Hanya sanggup berjalan beberapa meter. Orang utan ini alami dehidrasi banget karena sumber airnya tidak ada di sekitar situ," jelas Paulinus.

Tulang rusuknya terlihat jelas akibat malnutrisi. Satwa itu juga menolak makan saat pertama kali menjalani perawatan.

"Saat ditemukan sangat lemas dan tidak mau makan, hanya minum saja. Dan baru pada hari keempat di PRS Long Sam baru mau makan. Itu mengindikasikan dehidrasi berat dan kekurangan sumber pakan," ungkapnya.

Perbaikan nutrisi menjadi kunci proses rehabilitasi. Orangutan tersebut belum bisa dilepasliarkan karena kondisinya masih membutuhkan waktu pemulihan.

Satu Orangutan Langsung Ditranslokasi ke Hutan Wahau

Orangutan jantan lainnya ditemukan dalam kondisi sehat dan masih menunjukkan sifat liar. Satwa yang diberi makan warga di pinggir jalan itu langsung ditranslokasi setelah menjalani pemeriksaan.

"Ada dua orang utan jantan ya. Kemudian orang utan satunya yang diberi makan di jalan, itu orang utan Guru namanya," ucap Paulinus.

Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, membenarkan dua orangutan jantan tersebut dievakuasi pada hari berbeda setelah ditemukan di jalan hauling. Individu yang sehat dilepasliarkan ke kawasan hutan di Wahau.

"Satu jantan dalam kondisi sehat dan masih menunjukkan sifat liar sehingga kita langsung lepasliarkan di hutan lindung hutan produksi PT Roy di Wahau. Kemudian juga yang satu individu lagi setelah kita lakukan pemeriksaan kondisinya malnutrisi dan dehidrasi berat," kata Ari.

Individu kedua memerlukan penanganan khusus selama 24 jam sebelum dibawa ke pusat rehabilitasi. BKSDA menitipkannya ke fasilitas CAN Borneo di Berau untuk menjalani pemulihan.

Krisis Pakan dan Air di Habitat

Paulinus menduga kemunculan orangutan dari kawasan hutan berkaitan dengan berkurangnya sumber pakan dan air selama kemarau panjang. Kondisi itu memaksa satwa mencari makanan hingga keluar dari habitatnya.

"Yang pertama adalah kekurangan sumber pakan. Kemudian yang kedua adalah sumber air. Itu jelas ya, dengan kondisi kemarau panjang seperti ini, tidak ada sumber pakan di hutan sehingga orang utan keluar mencoba mencari makan," jelasnya.

Masalah baru muncul ketika orangutan yang keluar hutan mendapat makanan dari manusia. Paulinus menyebut satwa itu dapat mengingat lokasi tersebut sebagai tempat memperoleh makanan sehingga berpotensi kembali menunggu di pinggir jalan.

"Apalagi kalau dia pernah terlihat di jalan kemudian ada orang yang memberi makan sekali saja, itu mindset-nya bahwa orang utan itu dia akan mengingat bahwa, 'Oh, ternyata kalau aku tunggu di jalan, aku bisa dapat makanan'," katanya.

Ari menilai kemarau panjang mulai memengaruhi kehidupan satwa liar di Kaltim. Dampaknya tidak terbatas pada orangutan karena satwa lain menghadapi kondisi habitat yang sama.

"Dugaan kita karena kemarau yang cukup panjang ini kemungkinan akan mempengaruhi terhadap kehidupan dari satwa yang ada, tidak hanya orang utan tapi lainnya," pungkasnya.

Reporter: Okta Nugraha
Sumber: eksposkaltim.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top