Peneliti AI Dunia Kini Lebih Pilih China Ketimbang Silicon Valley

Penulis: Prayoga Santana  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 10:21:31 WIB
Peneliti AI dunia berkarier di China capai 41 persen, melampaui Amerika Serikat 34 persen.

KALIMANTAN TIMUR — Laporan Carnegie China bertajuk "Who's ahead in the global AI talent race" mencatat 41 persen peneliti AI terkemuka dunia kini berkarier di China, mengalahkan Amerika Serikat yang tertinggal di angka 34 persen. Pergeseran ini dipicu menguatnya industri AI lokal lewat perusahaan seperti DeepSeek dan Moonshot AI, plus pengetatan aturan visa AS. Temuan itu menandai perubahan peta kekuatan talenta teknologi global yang selama ini dikuasai Silicon Valley.

Analisis terhadap 10.280 peneliti AI yang makalahnya diterima di Conference on Neural Information Processing Systems 2025 menjadi dasar laporan tersebut. Jumlah itu mewakili sekitar 40 persen dari seluruh peneliti yang lolos seleksi di salah satu konferensi machine learning terbesar dunia itu.

China Kini Cetak Talenta AI Terbanyak

Sebanyak 57 persen peneliti AI tercatat menuntaskan studi sarjana di China. Angka itu jauh meninggalkan Amerika Serikat yang hanya menyumbang 13 persen lulusan sarjana bagi populasi peneliti yang sama.

Tingginya jumlah lulusan dalam negeri berjalan seiring keputusan banyak peneliti untuk tetap berkarier di China. Peluang kerja lokal yang melimpah dan pembatasan visa AS yang semakin ketat menjadi dua pendorong utamanya.

Pergeseran Angka dalam Dua Tahun

Pada 2022, Amerika Serikat masih menampung 46 persen peneliti AI terkemuka dunia, sementara China hanya 27 persen. Kini posisinya berbalik: China naik ke 41 persen dan AS turun ke 34 persen.

Damien Ma, direktur Carnegie sekaligus salah satu penulis laporan, menilai China berhasil membangun industri AI dalam negeri yang tangguh. "China telah membangun industri AI dalam negeri yang tangguh dengan dukungan perusahaan-perusahaan terkemuka seperti DeepSeek dan Moonshot AI, di mana tingkat kompensasinya kini cukup sebanding dengan yang ada di Silicon Valley," kata Ma, dikutip dari South China Morning Post, Jumat (25/9).

AS Masih Jadi Tujuan Peneliti China

Meski tren mulai bergeser, Amerika Serikat tetap menjadi tujuan utama peneliti AI asal China yang ingin berkarir di luar negeri. Peneliti AI di AS yang meraih gelar sarjana dari China tahun lalu naik 4 persen.

Hambatan mobilitas tetap membayangi perpindahan warga negara. AS dan China sama-sama memperketat pengawasan terhadap transfer teknologi dan risiko keamanan nasional.

Dampak ke Peta Talenta Global

Temuan Carnegie China mengindikasikan pergeseran yang lebih luas dalam keseimbangan kekuatan teknologi global. Kedua negara besar itu bersaing meraih supremasi dalam pengembangan teknologi mutakhir.

Bagi ekosistem AI Asia Tenggara, termasuk Indonesia, arah pergerakan talenta ini layak dicermati. Negara yang mampu menyediakan peluang riset, kompensasi kompetitif, dan kepastian regulasi berpeluang menahan peneliti lokalnya sekaligus menarik kolaborasi lintas negara.

Reporter: Prayoga Santana
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top