SAMARINDA — Project Director BIFF 2026, Anas Maghfur, menyatakan festival ini tidak berhenti pada peragaan busana. Pelaku usaha yang dilibatkan mencakup pengrajin, penenun, pembatik, desainer, hingga model. Desainer yang terlibat datang dari Kalimantan Timur dan sejumlah kota lain di Indonesia, dengan model internasional turut ambil bagian.
Menurut Anas, arah penyelenggaraan festival adalah menghidupkan industri fashion di Kaltim, bukan hanya panggungnya. "Target kami dengan penyelenggaraan Borneo International Fashion Festival, kami ingin menghidupkan fashion supaya lebih semarak lagi di Kaltim, terutama di sektor industrinya. Jadi, bukan hanya peragaan busananya, tetapi sektor industrinya juga makin tumbuh dan berkembang," ujarnya.
Business matching menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian BIFF. Kegiatan itu mempertemukan pelaku UMKM dan pengrajin dengan calon buyer untuk menilai produk yang berpotensi dipasarkan ke luar negeri, khususnya Australia.
"Jadi, mempertemukan sementara ini business matching-nya dengan buyer yang memang stay di Melbourne, kemudian bertemu dengan para pengrajin yang ada di Kaltim dan para UKM. Jadi, mana produk yang potensial untuk dijual di Melbourne," kata Anas.
Produk yang diperkenalkan tidak terbatas pada pakaian. Berbagai produk kreatif dari pelaku usaha daerah ikut dipamerkan agar pasar produk lokal tidak hanya bergantung pada konsumen dalam negeri.
Anas menjelaskan, penyelenggaraan festival diarahkan untuk mendorong pertumbuhan pelaku usaha di sepanjang rantai industri kreatif. Keterlibatan mereka dinilai menentukan apakah industri fashion Kaltim bisa tumbuh lebih jauh dari sekadar ajang promosi.
BIFF 2026 melibatkan sekitar 30 desainer dari sejumlah daerah dan peserta internasional dari beberapa negara. Penyelenggaraan perdana ini diharapkan menjadi pijakan untuk mengembangkan BIFF secara lebih besar pada tahun berikutnya.