BMKG Balikpapan Sebut Hujan Sporadis Bukan Tanda Musim Basah, 314 Titik Panas Masih Terdeteksi di Kaltim

Penulis: Ridho Pratama  •  Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:17:01 WIB
Petugas BMKG memantau data titik panas dan kondisi atmosfer di Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan.

BALIKPAPAN — Indeks pemantauan El Nino-Southern Oscillation (ENSO) saat ini menunjukkan status El Nino sangat kuat. Ketua Tim Kerja Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, menyebut potensi curah hujan sepanjang Oktober 2026 masih jauh di bawah kategori normal.

Pemodelan agensi meteorologi dunia dari Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa memproyeksikan El Nino bertahan hingga pertengahan 2027. Intensitasnya diperkirakan mulai meluruh bertahap pada periode Maret–Mei, lalu terus mereda hingga Mei–Juli 2027.

Dua Gelombang Atmosfer Picu Hujan Berdurasi Pendek

Hujan yang membasahi Balikpapan dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir dipicu gangguan gelombang atmosferik. Gelombang Kelvin yang bergerak dari barat ke timur bertumpuk dengan Gelombang Rossby yang bergerak dari timur ke barat di atas wilayah Kaltim.

"Pertumpangan dua gelombang atmosfer ini memicu pertumbuhan awan hujan yang lebih masif. Namun sifat hujannya masih sporadis, terpisah-pisah, dan durasinya sangat pendek di bawah satu jam," kata Huda di Balikpapan, Senin (5/10).

Tanah yang masih dalam kondisi sangat panas membuat air hujan menguap dengan cepat. Kondisi itu dinilai tidak terlalu berdampak terhadap pengurangan titik api di Kaltim.

200 Lebih Titik Panas Terkonsentrasi di Kukar

Data BMKG per 5 Oktober 2026 hingga pukul 14.53 WITA mencatat 314 titik panas tersebar di seluruh Kaltim. Lebih dari 200 titik di antaranya terdeteksi di wilayah Kutai Kartanegara.

Perbelokan arah angin dari selatan menuju timur membuat Balikpapan dan sekitarnya berpotensi terpapar sebaran kabut asap. Asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan di kawasan Kutai Kartanegara, Kabupaten Paser, serta akumulasi dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Batu Engau Alami 69 Hari Tanpa Hujan

Sejumlah daerah di Kaltim masih mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kriteria kekeringan ekstrem lebih dari 60 hari. Wilayah terparah berada di Paser, tepatnya Kecamatan Batu Engau dengan 69 hari tanpa hujan.

"Kekeringan ekstrem terpantau di Paser, tepatnya wilayah Batu Engau mencapai 69 hari tanpa hujan," ujar Huda.

Samarinda, Kutai Kartanegara, hingga Balikpapan bagian utara mencatatkan HTH berkisar 30 hingga 60 hari. Risiko karhutla dan kemunculan titik api disebut masih sangat tinggi di daerah-daerah dengan HTH panjang.

Musim Hujan Diprakirakan Memendek

Huda menyebut ekspektasi akumulasi hujan yang biasa dirasakan pada November dan Desember kemungkinan lebih rendah dari biasanya. Durasi musim hujan tahun ini juga berpotensi memendek.

"Ekspetasi akumulasi hujan yang biasa kita rasakan di bulan November dan Desember kemungkinan akan lebih rendah dari biasanya, serta durasi musim hujannya berpotensi memendek," ujarnya.

BMKG meminta warga di daerah dengan HTH panjang meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla. Pemantauan titik panas dan sebaran asap lintas kabupaten masih berlangsung menyusul perbelokan arah angin yang membawa asap ke Balikpapan dan sekitarnya.

Reporter: Ridho Pratama
Sumber: eksposkaltim.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top