SAMARINDA — Proyek Bumi Etam Chemical di Kutai Timur menjadi langkah pertama pengembangan industri hilir batu bara di Kalimantan Timur. Fasilitas tersebut dirancang mengolah batu bara kalori rendah melalui teknologi coal to methanol, dengan kebutuhan bahan baku diperkirakan sekitar 7 juta ton per tahun.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kalimantan Timur Bambang Arwanto menyatakan posisi daerah sebagai lumbung energi diarahkan untuk memperkuat hilirisasi. Batu bara berkalori rendah yang selama ini memiliki keterbatasan harga jual menjadi sasaran utama proyek tersebut.
Bambang menjelaskan jenis batu bara yang dibidik bukan komoditas dengan harga pasar tertinggi. Pihaknya menyasar batu bara non-spek dengan nilai kalor sekitar 3.400 ke bawah.
Jenis tersebut tidak masuk kelompok harga acuan batu bara HB1, HB2, maupun HB3. Kondisi itu membuat daya saingnya di pasar lebih rendah dibanding batu bara kalori tinggi.
"Tapi memang harganya tidak kompetitif. Memang untuk non-spek ini, kebijakan pemerintah dimanfaatkan untuk energi untuk diubah menjadi metanol," kata Bambang, Selasa (10/6).
Hilirisasi dinilai menjadi salah satu jalan meningkatkan nilai tambah komoditas yang selama ini dijual dengan harga relatif rendah. Kaltim memiliki cadangan batu bara kalori rendah dalam jumlah besar.
"Karena memang kita punya sumber batu bara yang kalori rendah ini cukup besar, diharapkan karena kalau dijual kan itu juga harganya jatuh," ujarnya.
Produk yang dihasilkan dari proyek tersebut bukan bensin atau solar jenis baru. Bambang menegaskan metanol nantinya digunakan sebagai bahan campuran dalam proses produksi BBM.
"Itu bahan campuran lagi untuk pembuatan BBM, bukan jenis baru," tegasnya.
Skema ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai pemanfaatan sumber energi dalam negeri. Kementerian ESDM sebelumnya membidik Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan sebagai lokasi pengolahan batu bara kalori rendah menjadi metanol.
Pemerintah menempatkan produksi metanol domestik sebagai bagian upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor. Kebutuhan metanol selama ini dipenuhi dari luar negeri.
"Karena kita impor kan sumbernya metanol itu. Kalau memang metanol itu bisa diproduksi, dia bisa menghemat devisa," kata Bambang.
Apabila kebutuhan metanol dapat dipenuhi dari dalam negeri, potensi penghematan devisa negara diperkirakan mencapai Rp7,1 triliun per tahun. Angka itu sejalan dengan nilai investasi proyek yang juga tidak kecil.
"Dan memang investasinya juga cukup besar," ungkapnya.
Pemerintah menempatkan proyek di Kutai Timur sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) gasifikasi batu bara menjadi metanol. Kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP) menjadi lokasi pengembangannya.
Bambang berharap proyek tersebut menjadi pintu masuk bagi pengembangan hilirisasi batu bara berikutnya di Kalimantan Timur. Peletakan batu pertama Bumi Etam Chemical disebutnya sebagai langkah awal industri hilir batu bara di daerah.
"Sudah ada peletakan batu pertama di Bumi Etam Chemical di Kutai Timur untuk hilirisasi yang pertama kali di Indonesia," ujarnya.
"Diharapkan sebagai motor penggerak untuk hilirisasi-hilirisasi selanjutnya," pungkas Bambang.