KALIMANTAN TIMUR — Hyundai Motors Indonesia menyatakan tidak masalah memenuhi kewajiban TKDN mobil listrik 60 persen yang berlaku mulai 2027. Pabrikan Korea Selatan itu sudah punya rantai pasok lengkap di dalam negeri, dari perakitan baterai hingga manufaktur kendaraan. Investasi yang dikucurkan mencapai sekitar Rp 50 triliun dengan kapasitas produksi 150 ribu unit.
Fransiscus Soerjopranoto, Chief Operating Officer Hyundai Motors Indonesia, menegaskan perusahaan sudah menyiapkan seluruh infrastruktur produksi untuk memenuhi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri yang terus naik bertahap. Pernyataan itu disampaikan di acara Hyundai Jump School Batch 3 Ceremony, Rabu (7/10).
Ketentuan TKDN mobil listrik tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023, perubahan atas Perpres Nomor 55 Tahun 2019. Skemanya berjenjang: 40 persen pada 2022-2026, naik jadi 60 persen pada 2027-2029, lalu 80 persen mulai 2030.
Hyundai sudah mengoperasikan fasilitas produksi sel baterai di Karawang dan perakitan paket baterai di Cikarang. Pusat perakitan mobil listrik perusahaan juga berlokasi di Cikarang, sehingga komponen utama bisa dipasok dari dalam negeri.
"Jadi, kalau kita lihat kan memang Hyundai adalah salah satu brand yang memiliki supply chain yang cukup lengkap. Jadi bukan hanya manufacture untuk assembly saja," kata Fransiscus.
Menurutnya, kelengkapan ekosistem itu membuat target TKDN 60 persen bukan hambatan berarti. Perusahaan tidak hanya merakit kendaraan, tetapi juga menyiapkan jaringan dealer dan layanan purnajual untuk konsumen Indonesia.
Fransiscus menyoroti nilai investasi besar yang sudah ditanamkan Hyundai untuk membangun infrastruktur produksi di Indonesia. Angkanya mencapai 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 50 triliun.
"Persiapannya ya teman-teman sudah tau. Kita kan sudah investasi 50 triliun, 3 miliar USD. Jadi sekitar 50 triliun itu kan investasi yang enggak main-main. Dengan kapasitas 150 ribu untuk pabrikan," ujarnya.
Kapasitas produksi 150 ribu unit itu disebutnya cukup untuk menopang kebutuhan pasar domestik sekaligus ekspor. Pabrik baterai yang sudah beroperasi juga dirancang bisa memasok permintaan luar negeri.
Jangkauan ekspor unit maupun baterai rakitan lokal diproyeksikan menembus pasar di luar ASEAN. Fransiscus menyebut kawasan Timur Tengah hingga Amerika Selatan masuk dalam radar ekspansi perusahaan.
"Dan pabrik baterai kita juga bisa men-support kebutuhan tersebut. Bahkan itu bukan hanya untuk pasar domestik, tapi juga untuk pasar ekspor juga, mancanegara," katanya.
Dengan fasilitas yang sudah berdiri, Hyundai memposisikan diri sebagai salah satu pemain yang paling siap menghadapi kenaikan syarat TKDN. Pemerintah sendiri menetapkan aturan ini untuk mendorong industri komponen lokal tumbuh seiring pertumbuhan pasar mobil listrik nasional.