SAMPIT — Bantuan senilai sekitar Rp15 miliar dari Presiden Prabowo Subianto untuk penanganan karhutla di Kotawaringin Timur disampaikan langsung saat Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau lokasi pada Sabtu malam, 17 Oktober. Pemerintah menegaskan pemadaman tidak berhenti ketika api permukaan sudah tidak terlihat. Pemantauan lanjutan wajib dilakukan agar titik kebakaran benar-benar aman.
Raja Juli meminta bantuan Presiden dimanfaatkan maksimal mengikuti kebutuhan riil petugas. Pemerintah juga membuka kemungkinan menambah dukungan jika anggaran yang tersedia belum mencukupi.
Kebijakan itu memberi ruang penyesuaian ketika kondisi lapangan berubah cepat, terutama saat api sulit dikendalikan.
Operasi pemadaman berjalan lewat dua jalur sekaligus. Dari udara, petugas menjatuhkan air melalui water bombing, menggunakan dry ice, dan menjalankan operasi modifikasi cuaca.
Di darat, petugas gabungan menangani area yang sulit dijangkau. Kedua pendekatan dinilai perlu berjalan beriringan supaya titik api tidak meluas.
Lahan gambut membuat penanganan di Kotawaringin Timur lebih rumit. Api bisa menjalar di bawah permukaan tanah sehingga tidak selalu terlihat meski kobaran di atas sudah dipadamkan.
Karena itu, asap yang mulai berkurang bukan tanda pekerjaan selesai. Pemeriksaan ulang dan pemantauan berkala diperlukan untuk mendeteksi kemunculan kembali titik panas.
Raja Juli menekankan pentingnya memastikan api benar-benar padam. Petugas juga diminta mengawasi area bekas terbakar agar kebakaran berulang bisa segera ditangani.
Pemadaman melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan relawan. Kolaborasi itu dibutuhkan karena pekerjaan mencakup pemadaman langsung sampai pengawasan area terdampak.
Sebelum ke Kotawaringin Timur, Raja Juli memimpin penanganan karhutla selama tiga hari di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat.
Selain Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat mendapat perhatian berdasarkan perkembangan titik panas yang terpantau. Data hotspot diperoleh dari pengamatan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.
Keberadaan hotspot tidak otomatis berarti satu kejadian kebakaran terpisah. Satu kebakaran bisa menghasilkan beberapa titik deteksi, sehingga jumlah hotspot tidak bisa disamakan dengan jumlah kejadian atau luas lahan terbakar.
Setiap indikasi tetap harus diperiksa petugas di lapangan. Verifikasi itu menentukan ke mana personel dan peralatan diarahkan.