SAMARINDA — Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Sani Bin Husain, mendorong pemerintah kota untuk mengubah fungsi kawasan Polder Air Hitam yang selama ini dikenal sebagai infrastruktur pengendali banjir menjadi ruang publik multifungsi. Gagasan ini disampaikan menyusul potensi besar kawasan tersebut untuk mengakomodasi aktivitas warga sekaligus menjadi lokasi promosi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Sani, pengembangan kawasan itu harus dirancang secara bertahap dengan perencanaan jangka panjang. Ia menilai polder tersebut merupakan aset penting yang belum dimanfaatkan secara maksimal oleh Pemerintah Kota Samarinda.
“Ini merupakan aset penting yang dimiliki Kota Samarinda. Ke depan, kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan air hujan, tetapi juga dapat menjadi ruang terbuka hijau yang dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga sekaligus menjadi wadah promosi bagi produk-produk UMKM lokal,” ujar Sani di Samarinda, Jumat, 7 Agustus 2026.
Lintasan Lari dan Jalur Jalan Kaki Jadi Prioritas
Sani mengusulkan pembangunan fasilitas olahraga sederhana seperti lintasan lari dan jalur jalan kaki di sekitar polder. Ia menilai keberadaan ruang publik yang nyaman menjadi kebutuhan mendesak di tengah pesatnya pertumbuhan kawasan perkotaan di Samarinda.
Untuk menunjang kenyamanan pengunjung, politisi itu meminta jalur tersebut dilengkapi lampu penerangan, area istirahat, hingga lahan parkir yang memadai. Penanaman pohon peneduh di sepanjang lintasan juga dinilai penting untuk menciptakan suasana sejuk sehingga warga dapat beraktivitas sejak pagi hingga sore hari.
Lapak UMKM Dirancang Seragam agar Tak Ganggu Fungsi Polder
Di sisi lain, Sani mendorong pemerintah menyiapkan area khusus bagi pelaku UMKM apabila pengembangan kawasan tersebut direalisasikan. Penataan lapak perlu dilakukan secara seragam agar menjaga estetika kawasan sekaligus tidak mengganggu fungsi utama polder sebagai infrastruktur pengendalian air.
“Saya berharap program pengembangan Polder Air Hitam dapat dimasukkan ke dalam RPJPD Kota Samarinda sehingga pelaksanaannya bisa dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan keuangan daerah dan didasarkan pada kajian yang komprehensif,” kata Sani.
Ia berharap ruang usaha yang nantinya tersedia diprioritaskan bagi pelaku UMKM lokal yang memasarkan produk khas Samarinda dan Kalimantan Timur. Mulai dari kuliner tradisional, kerajinan tangan, hingga hasil kreativitas masyarakat lainnya.
Menunggu Ruang Fiskal dan Kajian Lingkungan
Sani mengakui kondisi fiskal daerah yang sedang mengalami tekanan membuat rencana tersebut belum memungkinkan untuk diwujudkan dalam waktu dekat. Karena itu, ia mengusulkan pengembangan Polder Air Hitam masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Samarinda.
Ia menegaskan, setiap tahapan pembangunan harus tetap memperhatikan aspek lingkungan, tata ruang, serta fungsi utama polder sebagai infrastruktur pengendali banjir. Kajian yang komprehensif menjadi prasyarat mutlak sebelum proyek dimulai.
Apabila direncanakan secara matang, Sani meyakini Polder Air Hitam berpotensi menjadi salah satu ikon ruang publik baru di Samarinda. Kawasan ini diharapkan mampu menghadirkan manfaat bagi kesehatan masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi melalui pengembangan UMKM dan sektor ekonomi kreatif.