KALIMANTAN TIMUR — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan kebakaran yang melanda Gedung Dinas Teknis Bapenda turut melumpuhkan pusat kendali lalu lintas berbasis teknologi milik Dishub. Kondisi ini memaksa petugas di lapangan mengambil alih pengaturan arus kendaraan secara manual di titik-titik persimpangan yang sebelumnya terhubung dengan sistem ITCS.
Pusat Kendali di Lantai 16 Hangus, Petugas Dikerahkan ke Simpang
"Traffic Management Control/ITCS Dinas Perhubungan yang berada di lantai 16 terdampak. Akibatnya, pengaturan lampu merah yang sebelumnya otomatis kini dilakukan secara manual," kata Pramono dalam keterangannya, Sabtu (8/8).
ITCS selama ini menjadi tulang punggung pengaturan lalu lintas di ibu kota. Dengan terganggunya sistem tersebut, Pramono menginstruksikan jajaran Dishub untuk segera melakukan penebalan personel di berbagai ruas jalan.
"Saya telah menginstruksikan penebalan pasukan Dishub di lapangan agar pengaturan lalu lintas tetap lancar," ujarnya.
Kronologi Kebakaran: Api Berkobar dari Lantai 11
Kebakaran pertama kali dilaporkan muncul pada Jumat (7/8) sekitar pukul 21.30 WIB. Api diduga bersumber dari lantai 11 gedung, kemudian dengan cepat merambat ke atas hingga mencapai lantai 16 yang menjadi lokasi server dan ruang kendali ITCS Dishub.
Sebanyak 37 unit kendaraan pemadam kebakaran dengan dukungan 185 personel dikerahkan untuk menjinakkan si jago merah. Setelah berjuang selama lebih dari empat jam, api berhasil dipadamkan sekitar pukul 02.00 WIB pada Sabtu (8/8) dini hari.
Dampak dan Langkah Antisipasi Pengendalian Lalu Lintas
Belum ada pernyataan resmi mengenai estimasi waktu pemulihan sistem ITCS pasca-insiden. Yang jelas, ketergantungan pada pengaturan manual di persimpangan utama berisiko menimbulkan kepadatan, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Dishub DKI kini dihadapkan pada tugas berat untuk memastikan mobilitas warga tetap berjalan. Selain mengerahkan personel ke lapangan, koordinasi dengan kepolisian juga menjadi kunci untuk mengurai potensi kemacetan di titik-titik kritis selama proses perbaikan sistem berlangsung.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur kota yang sangat bergantung pada satu pusat kendali. Jika sistem tidak segera pulih, bukan tidak mungkin dampaknya akan meluas pada kelancaran aktivitas ekonomi dan mobilitas harian jutaan pengguna jalan di Jakarta.