KALIMANTAN TIMUR — Kepala BGN Sudaryono sebelumnya mengonfirmasi lembaganya bakal pindah kantor dari Kebon Sirih ke GMP dalam beberapa bulan ke depan. Meski sama-sama institusi pemerintahan, BGN tetap menyiapkan anggaran sewa. "Skemanya, kalau nggak salah ada sewanya kan. Kalau nggak salah gitu ya. Soalnya aku tanya sama Kemenko Pangan kan juga menempati Graha Mandiri itu ada. Ada biasa, tapi nggak besar lah karena kan sama-sama pemerintahan," ujarnya usai rapat dengan Komisi IX, Kamis (3/9).
Status Negosiasi Graha Merah Putih dan BGN
Direktur Utama PT Telkom Landmark Tower (TLT) Suratman mengatakan pembahasan skema pemanfaatan ruang GMP oleh BGN masih berlangsung. TLT merupakan anak usaha TelkomProperty yang sehari-hari mengelola gedung tersebut.
"Rencana pemanfaatan dan penyewaan ruang di Graha Merah Putih oleh Badan Gizi Nasional (BGN) saat ini masih dalam proses negosiasi dan pembahasan lebih lanjut serta dikoordinasikan dengan pihak terkait," jelas Suratman dalam siaran pers, Selasa (8/9).
Ia menambahkan, proses yang berjalan tidak akan mengganggu aktivitas tenant yang sudah menempati GMP. "Kami berkomitmen menjaga kepastian dan keberlangsungan operasional para tenant yang berada di gedung tersebut. Setiap proses juga akan dilakukan secara tertib dan terukur," tegasnya.
Strategi Optimalisasi 3.010 Aset Telkom
Di balik rencana pemanfaatan GMP oleh BGN, Telkom tengah mengubah arah pengelolaan asetnya. Perusahaan tidak ingin properti yang dimiliki sekadar menjadi aset pasif, melainkan memberi nilai ekonomi lebih besar.
PT Graha Sarana Duta (TelkomProperty) yang bertindak sebagai pengelola aset Telkom mencatat ada 3.010 aset tersebar di berbagai lokasi. Sekitar 50 persen di antaranya sudah masuk proses optimalisasi.
Direktur Utama TelkomProperty Didit Sulistyo menyebut strategi leveraging asset menjadi kunci. Perusahaan membuka peluang pemanfaatan aset oleh pihak eksternal lewat skema bisnis Business to Business (B2B).
"TelkomProperty terbuka terhadap peluang pemanfaatan aset oleh berbagai pihak, termasuk calon mitra eksternal, melalui mekanisme bisnis yang wajar dan proporsional secara Business to Business (B2B), dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola dan peraturan yang berlaku," kata Didit.
Dampak ke Lanskap Pengelolaan Aset BUMN
Langkah Telkom mengoptimalkan aset lewat skema sewa kepada institusi pemerintah mencerminkan tren pengelolaan properti korporasi yang lebih agresif. Alih-alih membiarkan gedung menganggur, perusahaan memilih memutar aset untuk menopang efisiensi operasional.
Bagi BGN, menempati GMP memberi keuntungan lokasi strategis di pusat bisnis Jakarta. Adapun bagi Telkom, pendapatan sewa dari institusi pemerintah memberikan arus kas yang lebih stabil dibandingkan penyewa komersial biasa.
Belum ada kepastian kapan kesepakatan final akan tercapai. Yang jelas, Telkom memastikan setiap proses pemanfaatan aset dilakukan dengan tata kelola yang transparan dan sesuai regulasi yang berlaku.