SAMARINDA — Ancaman terbesar terhadap kelestarian alat musik tradisional Sampe justru datang dari cara pelestarian yang kaku. Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur Lestari menyebut pendekatan yang tidak melibatkan masyarakat akar rumput hanya akan membuat warisan budaya itu mati perlahan.
"Pelestarian Sampe tidak cukup hanya dengan memasukkannya ke dalam etalase museum, melainkan harus memastikan bahwa ekosistem budayanya tetap bernapas di tengah masyarakat," ujar Lestari di Samarinda, Senin.
Alat musik petik yang dikenal dengan beragam nama seperti Sampek, Sape, maupun Kecapi ini memiliki fungsi lebih dari sekadar pengiring lagu. Bagi masyarakat Dayak, Sampe yang terbuat dari kayu pilihan hutan Kalimantan menyimpan relasi magis yang kuat dengan alam dan dinamika sosial.
Motif ragam hias pada tubuh kayu Sampe, menurut Lestari, melambangkan daya upaya, kebesaran, serta keagungan masyarakat yang hidup harmonis dengan alam sekelilingnya. Setiap ukiran bukan sekadar dekorasi, melainkan rekaman interaksi manusia dengan lingkungannya.
Lestari mengingatkan bahwa posisi pemerintah dalam pelestarian Sampe bukan sebagai pengendali tunggal, melainkan fasilitator yang mengakomodasi peran masyarakat dari bawah. Ia juga mengimbau agar masyarakat tidak terjebak pada inersia yang berisiko memunculkan pengerasan identitas primordial dan mengancam integrasi sosial budaya.
Kebudayaan, tegasnya, bukanlah warisan masa lalu yang beku. Sampe harus dipandang sebagai proses transformasi yang dinamis dan berpadu dengan karya kreatif kontemporer.
Agar perlindungan terhadap Sampe berjalan seiring pemanfaatannya di masyarakat, pengarusutamaan kebudayaan harus ditanamkan secara sistemik sejak dini melalui jalur pendidikan. Lestari mendorong agar ekosistem budaya Sampe terus ditegakkan melalui panggung perayaan adat yang sakral, ajang pariwisata daerah, hingga atraksi budaya populer kontemporer.
"Pengarusutamaan kebudayaan tersebut harus ditanamkan secara sistemik sejak dini melalui jalur pendidikan agar perlindungan terhadap Sampe sejalan dengan pemanfaatan di masyarakat," ungkap Lestari.
Sampe memiliki keragaman nama di setiap subsuku Dayak, mulai dari Sampek, Sape, hingga Kecapi. Keunikannya terletak pada bahan baku kayu pilihan khas hutan Kalimantan serta motif ukir yang merekam jejak interaksi manusia dengan alam dan dinamika sosial masyarakat pendukungnya.
Partisipasi bisa dilakukan dengan menghidupkan Sampe di acara adat, festival budaya, hingga pertunjukan musik kontemporer. Pemerintah daerah juga membuka ruang bagi komunitas dan perajin untuk terus memproduksi serta mengajarkan teknik memainkan alat musik ini kepada generasi muda.