Fenomena ini bukan sekadar angka di atas kertas. Bagi konsumen Indonesia yang mulai beralih ke kendaraan listrik, depresiasi tinggi berarti biaya kepemilikan total bisa jauh lebih mahal dari yang dibayangkan, terutama jika mobil hanya dipakai dalam jangka pendek.
Data yang dirangkum dari berbagai sumber menunjukkan beberapa model EV mengalami penurunan harga paling ekstrem. Meski merek spesifik tidak disebutkan dalam laporan utama, pola yang terlihat jelas: model-model yang masuk dalam kategori ini umumnya adalah EV generasi awal atau varian yang kurang populer di pasar sekunder.
Depresiasi di atas 60 persen berarti mobil seharga Rp 1 miliar hanya tersisa sekitar Rp 400 juta setelah lima tahun. Bandingkan dengan mobil bensin setara yang biasanya kehilangan 40-50 persen nilainya di periode yang sama.
Ada beberapa faktor yang menjelaskan fenomena ini. Pertama, teknologi baterai yang berkembang pesat membuat EV generasi lama terasa usang lebih cepat. Kedua, kekhawatiran pembeli bekas terhadap degradasi baterai dan biaya penggantian yang mahal.
Ketiga, insentif pajak dan potongan harga untuk EV baru di berbagai negara secara artifisial menekan harga jual mobil bekas. Di Indonesia, situasi serupa mulai terasa dengan berbagai program insentif yang membuat EV baru lebih terjangkau, namun berdampak pada nilai jual kembali unit bekas.
Pasar EV Indonesia masih dalam tahap pertumbuhan, namun tren depresiasi ini patut dicermati. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus mendorong adopsi EV dengan berbagai insentif, termasuk potongan PPnBM dan subsidi untuk model tertentu.
Namun, data ini menunjukkan bahwa pembeli EV di Indonesia harus mempertimbangkan faktor depresiasi sebagai bagian dari biaya kepemilikan. Bagi mereka yang berencana memakai mobil lebih dari lima tahun, dampaknya mungkin tidak terlalu terasa. Tapi untuk mereka yang suka ganti mobil setiap beberapa tahun, kerugian akibat depresiasi bisa signifikan.
Memilih model EV dengan reputasi depresiasi yang lebih baik bisa menjadi langkah awal. Merek dengan jaringan servis kuat dan riwayat keandalan baterai cenderung mempertahankan nilai lebih baik.
Selain itu, pembeli bisa mempertimbangkan untuk membeli EV bekas yang sudah mengalami depresiasi terbesar di tahun-tahun pertama. Strategi ini memungkinkan pembeli mendapatkan mobil listrik dengan harga yang jauh lebih murah tanpa menanggung kerugian depresiasi paling tajam.
Pada akhirnya, keputusan membeli EV harus didasarkan pada perhitungan total biaya kepemilikan, bukan hanya harga beli awal. Data depresiasi ini menjadi pengingat bahwa mesin listrik memang lebih murah diisi, tapi belum tentu lebih murah jika Anda berencana menjualnya dalam waktu dekat.