BALIKPAPAN — Komisi IV DPRD Balikpapan memberikan catatan kritis di tengah program revitalisasi sekolah dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Meski mengapresiasi bantuan perbaikan sarpras, Ketua Komisi IV Gasali menekankan bahwa persoalan kekurangan guru tidak kalah genting.
Gasali menyebut, selama ini perhatian pemerintah kerap terfokus pada pembangunan gedung dan laboratorium. Padahal, sejumlah sekolah di Balikpapan masih kekurangan tenaga pendidik, terutama di daerah pinggiran dan kelurahan yang aksesnya sulit.
"Kami bersyukur ada bantuan revitalisasi. Tapi, kalau gurunya tidak ada, bagaimana proses belajar mengajar berjalan?" ujar Gasali, dikutip dari keterangannya, Kamis (20/3/2025).
Komisi IV DPRD Balikpapan berencana mengajukan usulan resmi ke Kemendikdasmen agar alokasi formasi guru untuk Kota Balikpapan ditambah. Langkah ini dinilai lebih strategis ketimbang sekadar mengandalkan guru honorer yang statusnya tidak jelas.
Gasali menambahkan, distribusi guru saat ini masih timpang. Sekolah di pusat kota cenderung kelebihan, sementara di kawasan seperti Kampung Baru dan Margasari justru kekurangan. Ia mendesak agar pemetaan guru dilakukan secara merata.
DPRD Balikpapan berharap pemerintah kota turut mendorong percepatan pengajuan kebutuhan guru ke pusat. Tanpa kolaborasi antara pemkot dan Kemendikdasmen, masalah tenaga pengajar di Balikpapan bisa terus berlarut.
"Kami minta ini jadi perhatian serius. Jangan sampai murid hanya punya bangunan baru, tapi tidak ada yang mengajar," tegas Gasali.
Data internal DPRD Balikpapan mencatat, setidaknya ada puluhan sekolah dasar dan menengah pertama yang masih kekurangan guru tetap. Kebutuhan paling mendesak adalah guru mata pelajaran IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris.
DPRD belum merilis angka pasti, namun mereka memastikan usulan ke pusat akan disertai data riil kebutuhan tiap kecamatan. Proses verifikasi data tengah dilakukan bersama Dinas Pendidikan Kota Balikpapan.