Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk periode year to date Agustus 2026 memperlihatkan pasar mobil nasional sedang naik. Distribusi wholesales dari pabrik ke dealer menembus 599.491 unit, naik 20,1 persen dari 499.315 unit pada periode yang sama 2025.
Penjualan retail ikut menguat. Sepanjang Januari–Agustus 2026 tercatat 594.984 unit, tumbuh 13,9 persen dibanding 522.160 unit tahun lalu. Sejumlah merek China memimpin kenaikan, tapi tidak semua merek dari negeri Tirai Bambu itu ikut menikmati tren positif.
Nissan menjadi merek dengan koreksi terbesar secara wholesales, anjlok 71 persen. Penjualan retailnya juga terpangkas 60,4 persen. Posisi serupa dialami Neta yang wholesales-nya merosot 75,1 persen, meski retail hanya turun 18,2 persen.
Denza, merek premium listrik dari BYD, juga tertekan dengan wholesales -54,2 persen dan retail -52,3 persen. UD Trucks mencatat wholesales -51,3 persen, sementara Scania turun 41,6 persen di kedua kanal.
Honda mencatat wholesales -37,5 persen dan retail -36 persen. Chery tak jauh berbeda, dengan wholesales -39,7 persen dan retail -36,9 persen. Subaru juga tertekan cukup dalam, wholesales -36,8 persen dan retail -45,3 persen.
Merek Eropa tidak luput. Mercedes-Benz Passenger Car turun 19,9 persen secara wholesales dan 31,1 persen retail. Volkswagen melemah 22,3 persen wholesale dan 26,7 persen retail, sedangkan MINI turun 5,3 persen wholesale dan 18,5 persen retail.
Berikut daftar 15 pabrikan yang penjualannya turun dibandingkan periode Januari–Agustus 2025, dirunut dari data Gaikindo:
Ada pula pabrikan yang wholesales-nya masih positif tapi retail-nya justru negatif. Wuling mencatat retail -7,8 persen, Mercedes-Benz Commercial Vehicle -8,3 persen, dan Ford -5,8 persen.
Di luar belasan merek tersebut, sebagian besar pabrikan lain masih membukukan pertumbuhan penjualan. Artinya, koreksi yang dialami 15 merek di atas lebih disebabkan faktor internal masing-masing, bukan semata pelemahan pasar secara umum.