6.333 Hektare Lahan di Kaltim Terbakar Sepanjang 2026, 2.500 Hektare Hangus Hanya dalam 21 Hari September

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Rabu, 23 September 2026 | 05:16:32 WIB
Kebakaran lahan di Kaltim mencapai 6.333 hektare sepanjang 2026, dengan 2.500 hektare terbakar dalam 21 hari pada September.

SAMARINDA — Kepala BPBD Kaltim Buyung Dodi menyebut laju kebakaran pada September menunjukkan kecenderungan lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Pemicunya, kondisi kemarau dan kekeringan yang membuat vegetasi di permukaan sangat mudah terbakar.

Data rekapitulasi BPBD Kaltim per 21 September memperlihatkan kerusakan paling luas terjadi pada lahan nonhutan, yakni 4.568,90 hektare. Kawasan hutan yang terbakar mencapai 1.726,20 hektare, sedangkan perkebunan 38,50 hektare.

Kukar Luasan Terbesar, Paser Frekuensi Terbanyak

Kutai Kartanegara menjadi daerah dengan luasan terbakar terbesar, mencapai 2.026,02 hektare dari 262 kejadian. Paser mencatat frekuensi kejadian tertinggi dengan 371 kejadian, sementara luas area terbakar di sana mencapai 1.139,35 hektare.

Kutai Barat menyusul dengan 1.131,76 hektare dari 155 kejadian. Berau mencapai 828,81 hektare dari 171 kejadian.

"Memang kita ketahui bahwa luasan Kukar itu lebih luas. Sehingga impact dari pada kebakaran ini cukup masif di daerah Kukar," kata Buyung.

Lahan Nonhutan Dominan, Kepemilikan Bakal Ditelusuri

Komposisi area terdampak yang sebagian besar berada di luar kawasan hutan menjadi perhatian tersendiri. Buyung mengatakan kondisi itu perlu ditelusuri hingga tingkat kepemilikan dan aktivitas di lapangan.

Penelusuran itu untuk melihat kemungkinan keterlibatan aktivitas manusia dalam munculnya kebakaran. Sejauh ini BPBD belum merinci berapa titik yang diduga akibat ulah manusia.

Api Padam, Asap Bisa Kembali Turun ke Permukaan

Dampak kebakaran tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Menurut Buyung, asap dapat bertahan di atmosfer dan kembali turun ke permukaan ketika kondisi atmosfer berubah.

"Jadi vegetasi di bawah ini sangat kering hingga sangat-sangat mudah terbakar," ungkapnya.

Kondisi itu ikut menjelaskan mengapa kualitas udara di sejumlah daerah Kaltim memburuk meski jumlah kebakaran di wilayah setempat sedang menurun. Mahakam Ulu menjadi salah satu contoh.

"Bukan karena dari Mahulu-nya sendiri tapi akibat efek dari Murung Raya dari Kalteng dan dari Kubar," ujarnya.

Kabut asap sempat mengganggu jarak pandang di sekitar Bandara APT Pranoto hingga berdampak pada penerbangan.

Hujan Baru Aktif Akhir Oktober

Prakiraan BMKG untuk Dasarian III September, 21–30 September, menunjukkan sebagian besar Kaltim masih mengalami curah hujan kategori rendah, 0–50 milimeter. Hanya sebagian Berau bagian utara dan Mahakam Ulu bagian barat yang diprakirakan masuk kategori menengah.

Buyung mengatakan hujan menjadi faktor penting untuk membantu membersihkan asap yang masih bertahan di atmosfer.

"Jadi kalau di prediksikan nanti hujan itu baru mulai aktif atau mulai muncul di sekitar akhir Oktober, nah artinya kita harus waspada bahwa dampak asap tadi masih akan timbul, baik di pagi hari maupun apabila awan itu kembali turun," jelasnya.

Kaltim Masuk Prioritas Nasional

Besarnya luasan area terbakar membuat posisi Kaltim mulai masuk dalam prioritas penanganan kebakaran di tingkat nasional.

"Dengan luasan 6.300 ini, saat ini Kaltim sudah mulai masuk ke dalam prioritas kebakaran yang ada di Indonesia," ujarnya.

Buyung menyebut kondisi Kaltim masih perlu diwaspadai karena tren kebakaran di sejumlah provinsi lain menjadi pembanding. Ia memperkirakan Kaltim dapat masuk kelompok daerah dengan tingkat kerawanan karhutla tinggi apabila tren tersebut berlanjut.

"Jadi menjadi kehati-hatian buat kita semua," ujarnya.

Reporter: Sigit Wicaksono
Sumber: eksposkaltim.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top