SAMARINDA — Dari 58 ekor sapi yang diserahkan, setiap kelompok menerima 29 ekor dengan komposisi 26 betina dan tiga jantan. Sapi-sapi tersebut didatangkan dari Bali, bukan dari peternakan di Kaltim.
Kepala Bidang Pembibitan dan Budidaya Peternakan DPKH Kaltim, Ihyan Nizam, menyebut sekitar 70 persen kebutuhan daging sapi di Kaltim masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Karena itu, pengembangan peternakan lokal dinilai penting untuk menekan ketergantungan tersebut.
Kelompok penerima bantuan tidak dipilih sembarangan. Ihyan menjelaskan setiap kelompok yang diusulkan harus melewati verifikasi lapangan sebelum dinyatakan layak menerima sapi.
"Kelompok ini sebelum dipilih itu ada namanya verifikasi. Jadi verifikasi kelompok itu, nama-nama yang diusulkan kita lihat ke lokasi, betul kah ada kelompoknya. Jadi ada beberapa kelompok memang yang masuk, tapi yang berdasarkan tim itu yang lolos verifikasi yang memang layak," jelasnya.
DPKH Kaltim juga mengimbau penerima merawat sapi sesuai standar penanganan ternak. Jika ada gangguan kesehatan pada hewan, peternak diminta segera berkoordinasi dengan petugas medis dinas.
Andi Satya menekankan indikator sukses program bantuan bukan pada jumlah sapi yang diserahkan hari itu. Menurutnya, yang menentukan adalah kemampuan peternak merawat dan mengembangbiakkan ternak agar populasi bertambah.
"Bukan dari jumlah berapa ternak yang dikasihkan saat ini, keberhasilannya bukan di situ. Tapi keberhasilannya adalah bagaimana ternak yang ada saat ini nanti kita bisa kembangbiakkan menjadi ternak yang lebih banyak lagi," ujar Andi Satya.
Ia menambahkan setiap program pemerintah harus tepat sasaran dan memberi manfaat nyata. Bantuan dari dana aspirasi legislatif itu diharapkan dikelola sebagai modal produktif kelompok tani.
"Kami dari DPRD Provinsi Kalimantan Timur tentu berkeinginan bahwa setiap program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur adalah betul-betul program yang tepat sasaran dan tepat guna. Bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan oleh pemerintah harus betul-betul pemanfaatannya dikeluarkan untuk kepentingan masyarakat," katanya.
Andi Satya menyampaikan program bantuan serupa berpotensi mengalami penyesuaian pada 2027. Pemerintah daerah memperkirakan ruang fiskal berkurang sehingga perlu memprioritaskan program esensial, terutama pemenuhan pelayanan dasar.
"Di tahun 2027 kan kita sudah mendapatkan prediksi forecast anggaran kita akan berkurang. Tentu akan difokuskan pada kegiatan yang esensial, standar pelayanan minimal masyarakat itu terutama nanti kegiatan-kegiatan yang betul-betul dirasakan perlu oleh pemerintah. Nah, kita berharap 2028 pada saat nanti fiskal sudah lebih longgar, ya kita bisa lakukan lagi," paparnya.
Ketua Kelompok Tani Bina Mulya Tani, Saptono, menyatakan kelompoknya berkomitmen menjaga dan mengembangkan sapi yang diterima. Menurutnya, bantuan itu harus memberi manfaat berkelanjutan bagi anggota kelompok.
"Alhamdulillah ini namanya rezeki. Jadi insyaallah kami selaku penerima akan mempertahankan ini dan memperbanyak, mengembangkan ini supaya jadi lebih bagus, agar kelompok kami bisa dipercaya di tahun-tahun berikutnya," pungkas Saptono.