BALIKPAPAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mulai menyusun langkah strategis guna mengantisipasi ancaman kekurangan tenaga kesehatan (nakes) di wilayahnya. Seiring dengan rencana pengoperasian dua rumah sakit baru dan sejumlah puskesmas tambahan, Pemkot resmi melirik skema Kontrak Kerja Individu (KKI) sebagai solusi darurat untuk menjaga stabilitas pelayanan medis.
Langkah ini diambil berkaca pada keberhasilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan dalam mengatasi krisis tenaga pendidik melalui skema serupa tahun ini.
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, menyatakan bahwa meskipun ketersediaan nakes saat ini masih mencukupi, tantangan besar akan muncul dalam satu tahun ke depan. Ekspansi fasilitas kesehatan milik pemerintah memerlukan distribusi SDM yang merata dan memadai agar tidak terjadi ketimpangan layanan.
Faktor Pemicu Kebutuhan Nakes Baru:
Dua Rumah Sakit Baru: Segera beroperasi dan membutuhkan tim medis lengkap.
Tambahan Puskesmas: Peningkatan jumlah pusat kesehatan masyarakat di beberapa titik strategis.
Beban Kerja PPPK: Saat ini banyak nakes PPPK yang merangkap tugas administratif, sehingga diperlukan tenaga pendukung tambahan.
Pemkot Balikpapan menilai jalur KKI atau Penyedia Jasa Layanan Perorangan (PJLP) adalah cara tercepat untuk mengisi kekosongan formasi dokter, perawat, hingga tenaga penunjang lainnya.
| Langkah Strategis | Detail Tindakan |
|---|---|
| Kajian Regulasi | Mempelajari teknis rekrutmen KKI/PJLP agar sesuai aturan keuangan daerah. |
| Lobi Sektoral | Berkomunikasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). |
| Kuota Formasi | Meminta Kementerian PAN-RB untuk membuka lebih banyak kuota rekrutmen nakes bagi Balikpapan. |
Bagus Susetyo juga mengimbau agar tenaga kesehatan yang ada saat ini tetap bersabar dan menjaga integritas pelayanan. Ia mengakui adanya beban kerja ganda yang dirasakan oleh pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) saat ini.
“Kami sedang mempersiapkan rekrutmen untuk menambah SDM. Sambil berjalan, kami minta nakes yang ada bersabar dulu. Harapannya, saat jumlah nakes sesuai kebutuhan, pelayanan maksimal bagi masyarakat Balikpapan benar-benar terwujud,” ujar Bagus Susetyo, Rabu (18/2/2026).
Langkah proaktif ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat bagi ketahanan sistem kesehatan di Balikpapan, terutama dalam menghadapi lonjakan kebutuhan layanan kesehatan di masa depan.