SAMARINDA — Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Timur mengoptimalkan skema pendanaan karbon dari Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) senilai Rp 19 miliar untuk memperkuat mitigasi dan operasional penanganan darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Alokasi ini menjadi prioritas untuk mendukung kebutuhan esensial petugas dan relawan di garis depan.
Plt Kepala Dishut Kaltim Rusmadi mengatakan, dana tersebut difokuskan untuk mengantisipasi puncak kerawanan kebakaran yang diprediksi terjadi pada September. "Dana ini difokuskan pada dukungan operasional untuk mengantisipasi puncak kerawanan kebakaran yang diprediksi terjadi pada bulan September," ujarnya di Samarinda, Selasa.
Rasio Petugas vs Luas Hutan yang Timpang
Kawasan hutan Kaltim yang mencapai sekitar 7,8 juta hektare hanya diawasi oleh 94 personel polisi kehutanan (polhut). Jumlah ini dinilai sangat tidak sebanding dengan bentang wilayah yang harus dijaga dari ancaman pembalakan liar, perambahan kawasan, aktivitas pertambangan ilegal, hingga risiko karhutla.
Untuk menyiasati ketimpangan tersebut, Dishut Kaltim memobilisasi partisipasi masyarakat lokal sebagai ujung tombak pengawasan di tingkat tapak. Data pembinaan perlindungan hutan mencatat, pemerintah daerah telah menyiagakan lebih dari 1.700 orang yang tergabung dalam Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP).
Selain itu, sebanyak 5.814 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) juga dilibatkan di berbagai wilayah. Kekuatan akar rumput ini ditopang oleh ratusan personel dari Satgas dan Brigade Pengendalian Karhutla, serta bersinergi dengan jajaran TNI dan Polri.
Perlengkapan Pelindung dan Tandon Lipat Disiapkan
Pemerintah telah memfasilitasi para relawan dengan kelengkapan pelindung standar, meliputi pakaian anti-api, topi, ketersediaan obat-obatan, serta berbagai peralatan pendukung teknis lainnya. Hal ini untuk menjamin keselamatan saat berhadapan dengan api di lapangan.
Menghadapi tantangan geografis dan krisis sumber air di puncak kemarau, petugas menempatkan tandon lipat di sejumlah area rawan karhutla. Untuk menjangkau titik api yang sulit diakses tim darat, penanganan akan dibantu melalui operasi udara menggunakan helikopter dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Dua Kebakaran Terjadi di Tahura Bukit Soeharto
Langkah antisipatif ini diperketat menyusul insiden kebakaran yang telah terjadi sebanyak dua kali di Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto. Kawasan tersebut merupakan bagian dari wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN).
Rusmadi menegaskan bahwa sinergi sipil yang solid bersama aparat menjadi pilar utama dalam menjaga kelestarian ekosistem di Benua Etam. "Langkah antisipatif ini diperketat menyusul insiden kebakaran yang telah terjadi sebanyak dua kali di Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto, yang merupakan bagian dari kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN)," ungkapnya.