KALIMANTAN TIMUR — Bunda, pernah mendengar curhat Si Kecil yang tiba-tiba ingin punya kotak bekal, tas, atau mainan yang sama dengan milik temannya? Tenang, hampir semua orang tua mengalaminya. Perasaan iri ini bisa muncul kapan saja, terutama saat tahun ajaran baru dimulai.
Psikolog anak Kennedy-Moore menjelaskan, saat anak melihat temannya punya barang baru yang keren, wajar jika mereka berpikir, "Aku juga mau itu!" atau "Semua orang punya, kecuali aku!".
Mengapa Anak Sangat Mudah Merasa Iri?
Rasa iri pada anak sebenarnya berkaitan erat dengan perkembangan psikologis mereka. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak belum punya pengalaman hidup yang cukup luas untuk memahami bahwa tren itu berubah-ubah.
"Identitas diri anak belum stabil karena mereka terus tumbuh dan berubah. Mereka juga belum punya pengalaman untuk menyadari bahwa tren gaya bisa datang dan pergi," jelas Kennedy-Moore. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap pengaruh materialistis.
Selain itu, pakaian dan mainan sering menjadi simbol penerimaan sosial. Mendengar teman sebaya bilang bahwa merek tertentu itu keren, atau koleksi mainan terbaru wajib dimiliki, bisa sangat memengaruhi keinginan anak untuk diterima di kelompoknya.
Psikolog anak di Nationwide Children’s Hospital, Whitney Raglin Bignall, PhD, menambahkan bahwa masa kembali ke sekolah adalah momen paling rentan. Anak-anak mendengar cerita liburan teman-temannya dan melihat mereka datang dengan perlengkapan baru, sehingga rasa iri pun mudah muncul.
Jangan Langsung Membelikan, Lakukan 3 Hal Ini
Di era belanja online yang serba mudah, orang tua sering bingung menentukan sikap. Sebelum memutuskan membelikan atau tidak, coba lakukan tiga langkah berikut ini.
1. Validasi Perasaan Anak Terlebih Dahulu
Langkah pertama adalah mengakui emosi anak. Beri tahu mereka bahwa rasa iri itu manusiawi dan wajar. Bantu anak mengenali perasaannya dengan menyebutkan nama-nama emosi, lalu tunjukkan empati.
Kamu bisa berkata, "Bunda paham kamu sedih karena teman-teman punya mainan baru. Bunda juga pasti merasa sedih kalau merasa ditinggalkan." Dengan begitu, anak merasa didengar dan tidak dihakimi.
2. Ajarkan Perbedaan Kebutuhan dan Keinginan
Luangkan waktu untuk membahas mengapa anak menginginkan barang tersebut. Apakah karena benar-benar membutuhkannya, atau hanya karena teman-temannya punya?
"Tanyakan apakah ia merasa dikucilkan karena tidak memilikinya. Ini bisa menjadi cara yang berguna bagi orang tua dalam mengambil keputusan," saran Dr. Raglin Bignall. Diskusi ini melatih anak berpikir kritis sebelum meminta sesuatu.
3. Hindari Membandingkan Anak dengan Orang Lain
Saat membahas rasa iri, jangan sekali-kali membandingkan anak dengan temannya. Perbandingan justru menjadi akar munculnya rasa iri itu sendiri.
Fokuslah pada masalah yang sebenarnya dihadapi anak. Cari alternatif positif seperti menghargai kelebihan yang ia miliki dan dorong komunikasi terbuka antara ia dan teman-temannya.
Kapan Bunda Perlu Lebih Waspada?
Rasa iri sesekali masih tergolong normal. Namun, jika anak terus-menerus membandingkan diri, menunjukkan rasa tidak percaya diri yang berlebihan, atau menarik diri dari pergaulan karena merasa kurang, Bunda perlu menggali lebih dalam.
Bisa jadi ada masalah sosial di sekolah yang membuatnya merasa tertekan. Bantu anak membangun rasa percaya diri dari hal-hal non-materi, seperti prestasi, hobi, atau kebaikan hati yang ia miliki.
Mendampingi anak melewati rasa iri memang butuh kesabaran ekstra. Namun, dengan komunikasi hangat dan konsisten, Bunda bisa membantunya tumbuh menjadi pribadi yang bersyukur dan tidak mudah terbawa arus pergaulan.